LANDASAN SOSIAL BUDAYA PENDIDIKAN

Setiap kegiatan manusia hampir tidak pernah lepas dari unsur sosial budaya. Sosial mengacu kepada hubungan antarindividu, antarmasyarakat, dan individu dengan masyarakat. Karena itu aspek sosial melekat pada diri individu yang perlu dikembangkan dalam perjalanan hidup peserta didik agar menjadi matang. Maka segi sosial ini perlu diperhatikan dalam proses pendidikan. Sama halnya dengan sosial, aspek budaya inipun sangat berperan dalam proses pendidikan.

Sosiologi dan Pendidikan
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok dan struktur sosialnya.
Sosiologi mempunyai ciri-ciri sebagai uraian berikut :
1. empiris: bersumber dan diciptakan dari kenyataan yang terjadi di lapangan.
2. teoretis : merupakan peningkatan fase penciptaan, bisa disimpan dalam waktu lama, dan dapat diwariskan kepada generasi muda.
3. komulatif : berkomulasi mengarah kepada teori yang lebih baik.
4. nonetis : menceritakan apa adanya, tidak menilai apakah hal itu baik atau buruk.
Salah satu bagian sosiologi, yang dapat dipandang sebagai sosiologi khusus adalah sosiologi pendidikan. Wuradji (1988) menulis bahwa sosiologi pendidikan meliputi : (1) interaksi guru-siswa, (2) dinamika kelompok di kelas dan di organisasi intra sekolah, (3) struktur dan fungsi sistem pendidikan, dan (4) sistem masyarakat dan pengaruhnya terhadap pendidikan. Wujud sosiologi pendidikan adalah tentang konsep proses sosial.
Proses sosial dimulai dari interaksi sosial yang didasari oleh faktor-faktor berikut :
1. imitasi
2. sugesti
3. identifikasi
4. simpati.
Imitasi atau peniruan bisa bersifat positif dan bisa pula bersifat negatif. Sugesti akan terjadi kalau seorang anak menerima atau tertarik pada pandangan atau sikap orang lain yang berwibawa atau berwewenang atau mayoritas. Seorang anak dapat juga mensosialisasikan diri lewat identifikasi yang mencoba menyamakan dirinya dengan orang lain, baik secara sadar maupun di bawah sadar. Simpati akan terjadi manakala seseorang merasa tertarik kepada orang lain.
Untuk memudahkan terjadi sosialisasi dalam pendidikan, maka guru perlu menciptakan situasi, terutama pada dirinya, agar faktor-faktor yang mendasari sosialisasi itu muncul pada diri anak-anak.
Interaksi sosial akan terjadi apabila memenuhi dua syarat berikut :
1. kotak sosial
2. komunikasi.
Kontak sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu :
1. kontak antarindividu
2. kontak antara individu dengan kelompok atau sebaliknya.
3. kontak antarkelompok.
Komunikasi adalah proses penyampaian pikiran dan per asaan seseorang kepada orang lain atau sekelompok orang. Ada sejumlah alat yang dapat dipakai mengadakan komunikasi dalam pendidikan, yaitu :
1. melalui pembicaraan
2. melalui mimik
3. dengan lambang
4. dengan alat-alat.
Ada sejumlah bentuk interaksi sosial, yaitu sebagai berikut :
1. kerjasama
2. akomodasi, ialah usaha untuk meredakan pertentangan, mencari kestabilan, serta kondisi berimbang di antara para anggota.
3. asimilasi atau akulturasi, ialah usaha mengurangi perbedaan pendapat antaraanggota serta usaha meningkatkan persatuan pikiran, sikap, dan tindakan dengan memperhatikan tujuan-tujuan bersama. Faktor-faktor yang dapat mempermudah terjadinya akulturasi antara lain :
a. toleransi
b. menghargai kebudayaan orang lain
c. sikap terbuka
d. demokrasi dalam banyak hal
e. ada kepentingan yang sama.
4. persaingan
5. pertikaian, ialah proses sosial yang menunjukkan pertentangan atau konflik satu dengan yang lain.
Kini mari kita lanjutkan dengan pembahasan tentang kelompok sosial. Kelompok sosial berarti himpunan sejumlah orang, paling sedikit dua orang, yang hidup bersama, karena cita-cita yang sama. Ada beberapa persyaratan untuk terjadinya kelompok sosial, yaitu :
1. setiap anggota memiliki kesadaran sebagai bagian dari kelompok.
2. ada interaksi atau hubungan timbal balik antara anggota.
3. mempunyai tujuan yang sama.
4. membentuk norma yang mengatur ikatan kelompok.
5. terjadi struktur dalam kelompok yang membentuk peranan dan status sebagai dasar kegiatan dalam kelompok.
Dalam dunia pendidikan kelompok sosial ini bisa berbentuk kelompok personalia sekolah, kelompok guru, kelompok siswa, kelas, subkelas, kelompok belajar di rumah,dan sebagainya.
Dalam kelompok sosial dibedakan antara kelompok primer dan skunder. Kelompok primer akan terjadi manakala hubungan antar-anggota cukup erat, kenal, dan akrab satu dengan yang lain. Sedangkan kelompok sekunder adalah kelompok yang anggotanya cukup banyak sehingga seringkali mereka tidak kenal satu dengan yang lain.
Ada istilah lain yang berhubungan dengan kelompok sosial, yaitu kelompok formal dan kelompok informal. Kelompok formal adalah kelompok yang memiliki aturan-aturan yang jelas yang sengaja diciptakan untuk menegakkan kelompok itu. Sebaliknya kelompok informal adalah kelompok yang tidak punya peraturan seperti itu.
Ada dua teori yang dipakai untuk meningkatkan produktivitas kelompok sosial, yaitu: (Wuraji, 1988 dan Sudarja, 1988).
1. Teori Struktur Fungsional
2. Teori Konflik.
Teori Struktur Fungsional memanfaatkan struktur dan fungsi untuk meningkatkan produktivitas kelompok. Teori ini kemudian dikembangkan menjadi teori Pluralis, artinya masing-masing bagian kelompok diberi kebebasan lebih besar dari semula dalam berinisiatif, mengembangkan ide dan berkreasi, yang kemudian dimusyawarahkan dan disaring dalam kelompok. Teori Konflik menggunakan prinsip-prinsip pemaksaan dalam melakukan perbaikan atau perubahan kelompok sosial. Teori ini kemudian dikembangkan menjadi teori radikal, artinya perubahan-perubahan dalam kelompok sosial dilakukan secara radikal.
Ada beberapa faktor yang merupakan kekuatan-kekuatan dalam kelompok yang menimbulkan dinamika kelompok, yaitu :
1. tujuan kelompok
2. pembinaan kelompok.
3. rasa persatuan dalam kelompok.
4. iklim kelompok.
5. efektifitas kelompok.
Berbicara tentang dinamika kelompok, maka perlu diketahui tentang istilah dinamika yang stabil. Suatu kelompok sosial dinamis yang stabil, artinya kelompok ini berusaha maju mengikuti zaman atau mengantisipasi perkembangan ilmu dan teknologi dengan tetap memperhatikan kestabilan kelompok. Wuradji (1988) menyebutkan tiga prinsip yang melandasi kestabilan kelompok, yaitu integritas, ketenangan, dan konsensus.
Untuk menciptakan dinamika yang stabil di sekolah, sebaiknya sekolah sebagai micro-order atau keteraturan kecil (Broom, 1988) atau sekolah sebagai masyarakat kecil. Dalam sosiologi, perilaku manusia bertalian dengan nilai-nilai. Ada sejumlah nilai, yang secara garis besar dikatakan ada empat sumber nilai, yaitu :
1. norma-norma yang mencakup : (Hassan, 1983)
a. norma-norma umum yang berlaku di masyarakat.
b. Folkways, ialah norma-norma yang berisi kebiasaan, adat, dan tradisi yang sifatnya turun-temurun.
c. Mores, ialah hal-hal yang diwajibkan untuk dianut dan diharamkan bila dilanggar.
2. agama, yaitu nilai-nilai yang tertera dalam ajaran agama.
3. peraturan dan perundang-undangan. Dalam pendidikan adalah UU No.2 Tahun 1989.
4. pengetahuan. Maksud dikembangkannya pengetahuan adalah untuk meningkatkan hidup dan kehidupan manusia.
Sekolah-sekolah harus memperhatikan pengembangan nilai-nilai ini pada anak-anak di sekolah. Seperti harapan Coleman (1984), yaitu sekolah memperbaiki kesehatan mental bangsa, dan Wuradji (1988) mengemukakan (1) sekolah sebagai kontrol sosial dan (2) sekolah sebagai perubahan sosial. Tugas-tugas pembinaan mental tersebut harus sejalan dengan salah satu pasal dalam UU pendidikan kita yang mengatakan sekolah/pemerintah, orang tua siswa, dan masyarakat secara bersama-sama bertanggung jawab atas lancarnya pelaksanaan pendidikan.

Kebudayaan dan Pendidikan
Kebudayaan menurut Taylor adalah totalitas yang kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat, dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh orang sebagai anggota masyarakat (Imran Hassan, 1989). Hassan (1983) mengemukakan kebudayaan adalah keseluruhan dari hasil manusia hidup bermasyarakat berisi aksi-aksi terhadap dan oleh sesama manusia sebagai anggota masyarakat yang merupakan kepandaian, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat, dan lain-lain kepandaian. Sedangkan Kneller mengatakan kebudayaan adalah cara hidup yang telah dikembangkan oleh anggota-anggota masyarakat (Imran Manan, 1989). Hassan (1983) mengatakan kebudayaan berisi (1) norma-norma, (2) folkways yang mencakup kebiasaan, adat, dan tradisi (3) mores. Sementara Imran Manan (1989) menunjukkan lima komponen kebudayaan sebagai berikut :
1. gagasan
2. ideologi
3. norma
4. teknologi
5. benda
agar menjadi lengkap, perlu ditambah beberapa komponen lagi, yaitu :
1. kesenian
2. ilmu
3. kepandaian.

Kebudayaan dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu :
1. kebudayaan umum
2. kebudayaan daerah
3. kebudayaan populer.
Kebudayaan umum harus diajarkan pada semua sekolah. Sementara kebudayaan daerah dapat dikaitkan dengan kurikulum muatan lokal, dan kebudayaan populer dapat juga diajarkan dengan proposi yang kecil. Kneller mengemukakan ada dua tonggak yang membuat kebudayaan berkembang dengan pesat (Imran Manan, 19891), adalah :
1. Revolusi Industri I dengan diketemukannya mesin uap abad ke-18.
2. Revolusi Industri II sejak tahun 1945. Revolusi yang membuat zaman sekarang menjadi era gobalisasi dan informasi.
Karena itu sekolah maupun perguruan tinggi patut mengutamakan pelajaran tentang ilmu dan teknologi, namun tidak berarti mengesampingkan pelajaran-pelajaran lain. Ada tiga hal yang menimbulkan perubahan kebudayaan menurut Kneller ialah : (Imran Manan, 1989).
1. originasi, yaitu sesuatu yang baru atau penemuan-penemuan baru. Hasil penemuan ini akan menggeser atau memperbarui yang lama.
2. difusi, yaitu pembentukan kebudayaan baru akibat masuknya elemen-elemen budaya yang baru kedalam budaya yang lama.
3. reinterpretasi, ialah perubahan kebudayaan akibat terjadinya modifikasi elemen-elemen kebudayaan yang telah ada agar sesuai dengan keadaan zaman.
Pendidikan adalah bagian kebudayaan. Bila kebudayaan berubah maka pendidikan juga bisa berubah dan bila pendidikan berubah akan dapat mengubah kebudayaan. Pendidikan adalah enkulturasi (Imran Manan, 1989). Pendidikan adalah suatu proses membuat orang kemasukan budaya, membuat orang berprilaku mengikuti budaya yang memasuki dirinya. Sekolah adalah salah satu dari tempat enkulturasi. Suatu budaya sesungguhnya merupakan bahan masukan atau pertimbangan bagi anak dalam mengembangkan dirinya.
Kerber dan Smith (Imran Manan, 1989) menyebutkan ada enam fungsi utama kebudayaan dalam kehidupan manusia, yaitu :
1. penerus keturunan dan pengasuh anak.
2. pengembangan kehidupan berekonomi.
3. transmisi budaya.
4. meningkatkan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
5. pengendalian sosial.
6. rekreasi.
mari kita terus kan pembahasa kebudayaan ini dengan kebudayaan Indonesia baru. Pidato Umar Khayam (1992) dalam kongres kebudayaan membahas tentang kebudayaan nasional mengemukakan bahwa kebudayaan nasional adalah suatu kebudayaan baru, yang akan membawa perjalanan bangsa ini menuju ke masyarakat modern yang dikehendaki dan mempunyai enam ciri sebagai berikut :
1. afeksi yang memiliki atau mengandung :
a. sikap jujur dalam semua bidang.
b. Tidak munafik
c. Tulus dan ikhlas dalam semua pekerjaan yang har us dilakukan.
2. sistem politik yang demokratis, yaitu :
a. pemerintahan oleh rakyat untuk rakyat
b. rakyat selalu mendapat kesempatan untuk mempertanyakan perihal pemerintahannya.
3. sistem ekonomi yang :
a. memberi kesempatan adil kepada semua warga negara untuk mendapat penghidupan dan kehidupan yang layak sesuai dengan harkat kemanusiaan.
b. Mampu menciptakan pasar luas untuk bersaing.
c. Menyalurkan hasil penjualan untuk kesejahteraan yang relatif merata pada seluruh masyarakat.
4. sistem pendidikan yang :
a. sanggup menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga negara untuk mendapatkan pendidikan, yang menjamin dapat menemukan atau mengadakan lapangan pekerjaan yang dipilihnya.
b. mampu mendorong perkembangan ilmu dan teknologi yang setinggi-tingginya.
5. sistem kesenian yang :
a. mampu mengembangkan suasana kehidupan kesenian yang kaya serta penuh vitalitas.
b. Tanpa adanya beban penghalang terhadap pernyataan kesenian.
6. sistem kepercayaan yang :
a. sehat, toleransi, dan damai.
b. Memberi tempat seluas-luasnya kepada semua bentuk agama untuk berlangsung secara selamat dan tenteram.
Umar Khayam melihat enam butir sebagai landasan untuk meningkatkan kebudayaan Indonesia menjadi kebudayaan yang baru.

Masyarakat dan Sekolah
Asal mula munculnya sekolah adalah atas dasar anggapan dan kenyataan bahwa pada
umumnya para orang tua tidak mampu mendidik anak mereka secara sempurna dan lengkap. Karena itu mereka membutuhkan bantuan kepada pihak lain, dalam hal ini lembaga pendidikan untuk mengembangkan anak-anak mereka secara relatif sempurna. Lembaga pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat itu sendiri. Lembaga pendidikan ada di masyarakat hidup bersama-sama dengan warga masyarakat. Sekolah tidak dibenarkan sebagai menara air, yaitu melebur menjadi satu dengan masyarakat tanpa memberikan identitas apa-apa. Ia juga tidak dibenarkan sebagai menara gading yang mengisolasi diri terhadap masyarakat sekitarnya. Lembaga pendidikan yang benar, adalah ibarat menara penerang, yaitu berada di masyarakat dan sekaligus memberi penerangan kepada masyarakat setempat.
Hubungan antara lembaga pendidikan dengan masyarakat dapat dibayangkan sebagai selembar kain batik. Dalam hal ini motif-motif atau pola-pola gambarnya adalah lembaga pendidikan dan kain latarnya adalah masyarakat. Antara lembaga pendidikan dengan masyarakat terjadi hubungan timbal balik. Pendidikan atau sekolah memberi manfaat kepada masyarakat begitu pula masyarakat memberikan dukungannya kepada sekolah. Manfaat pendidikan bagi masyarakat adalah untuk meningkatkan peranan mereka sebagai warga masyarakat, baik yang berkaitan dengan kewajiban maupun dengan hak mereka. Khusus bagi para siswa dan para remaja, manfaat pendidikan adalah lebih bersifat sebagai wahana persiapan untuk menjadi individu dan warga negara yang baik.
Zanti Arbi (1988) mengatakan bahwa pendidikan itu adalah kunci bagi pemecahan masalah-masalah sosial, dan sekolah juga merupakan alat kontrol sosial. Wuradji (1988) juga menulis tentang sekolah sebagai kontrol sosial dan perubah sosial. Selanjutnya Wuradji menyebutkan fungsi-fungsi pendidikan sebagai berikut. Pertama, pendidikan sebagai lembaga konservasi yang mencakup fungsi kontrol sosial, pelestari budaya, dan seleksi serta alokasi terhadap para lulusan dalam wujud kualifikasi tertentu yang cocok untuk jenis pekerjaan tertentu. Kedua, pendidikan sebagai perubahan sosial yang mencakup reproduksi budaya, difusi kebudayaan, meningkatkan kemampuan menganalisis secara kritis, memodifikasi hierarki ekonomi masyarakat, dan perguruan tinggi sebagai pusat perubahan.
Sementara itu Broom (1981) menyebut fungsi pendidikan sebagai (1) transmisi budaya, (2) meningkatkan integrasi sosial atau bermasyarakat, (3) mengadakan seleksi dan alokasi tenaga kerja melalui pendidikan itu sendiri, dan (4) mengembangkan kepribadian. Dari pendapat beberapa para ahli tersebut di atas, maka manfaat sekolah atau pendidikan bagi masyarakat adalah sebagai berikut :
1. pendidikan sebagai transmisi budaya dan pelestari budaya.
2. sekolah sebagai pusat budaya bagi masyarakat sekitarnya.
3. sekolah mengembangkan kepribadian anak disamping oleh keluarga anak itu sendiri.
4. pendidikan membuat orang menjadi warga negara yang baik, tahu akan kewajiban dan haknya.
5. pendidikan meningkatkan integrasi sosial atau kemampuan bermasyarakat.
6. pendidikan meningkatkan kemampuan menganalisis secara kritis, melalui pelajaran ilmu,
teknologi, dan kesenian.
7. sekolah meningkatkan alat kontrol sosial dengan memberi pendidikan agama dan budi pekerti.
8. sekolah membantu memecahkan masalah-masalah sosial.
9. pendidikan adalah sebagai perubah sosial melalui kebudayaan-kebudayaan baru.
10. pendidikan berfungsi sebagai seleksi dan alokasi tenaga kerja.
11. pendidikan dapat memodifikasi hierarki ekonomi masyarakat.

Sudah merupakan konsep umum dalam dunia pendidikan , bahwa proses belajar yang baik tidak hanya dilaksanakan di sekolah, melainkan sebaiknya diperluas ke lapangan atau masyarakat. Salah satu bnetuk belajar di masyarakat adalah karya wisata. Dukungan yang lain adalah tersedianya para narasumber di masyarakat yaitu orang-orang yang terampil atau yang menguasai konsep tertentu yang bekerja atau bertugas di masyarakat. Kondisi dan keadaan daerah atau masyarakat bisa merupakan inspirasi bagi lembaga pendidikan untuk memberi variasi kepada kurikulumnya, yang dikenal sebagai kurikulum muatan lokal. Kontrol sosial merupakan manfaat tersendiri bagi lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan yang ditangani bersama sekolah dengan anggota masyarakat memang patut mendapat kontrol dari kedua belah pihak. Sebagai konsekuensi tanggung jawab bersama, tuntutan dan kontrol dari pihak masyarakat, maka masyarakat merasa wajib memberi bantuan baik berupa dana maupun materiil lainnya kepada sekolah. Hubungan yang erat antara sekolah dengan masyarakat karena saling membutuhkan satu dengan yang lain, membuat kemungkinan terbentuknya badan kerjasama yang relatif permanen.

Masyarakat Indonesia dan Pendidikan
Sebagian besar masyarakat Indonesia sekarang sudah sadar akan pentingnya pendidikan untuk meningkatkan hidup dan kehidupan. Asumsi mereka adalah makin tinggi ijazah yang dapat diraih makin cepat dapat pekerjaan serta makin besar gaji yang diterima. Namun kenyataan menunjukkan tidak persis seperti itu. Hal ini disebabkan karena pemakai tenaga kerja tidak percaya begitu saja kepada isi ijazah, mereka lebih percaya kepada kemampuan, keterampilan, dan kepribadian para pencari kerja. Belakangan ini, mereka sudah mulai memilih perguruan tinggi yang bermutu atau cukup bermutu. Sementara itu lulusan sekolah ataupun perguruan tinggi hampir seluruhnya ditentukan oleh prestasi belajar dalam aspek kognisi. Dengan demikian tujuan pendidikan nasional untuk membentuk manusia seutuhnya belum tercapai.
Ada beberapa hal yang tampaknya sudah kena pengaruh globalisasi terhadap masyarakat Indonesia, antara lain :
1. Bidang ekonomi
a. Bantuan dana dari luar negeri.
b. Penanaman modal asing di Indonesia
c. Industri dan perdagangan Indonesia menyebar ke luar negeri atau sebaliknya industri dan perdagangan asing masuk ke Indonesia.
d. Ekonomi moneter tidak dapat diisolasi dari pengaruh dunia luar.
2. Bidang politik
Tokoh-tokoh internasional sering kali mempermasalahkan :
a. HAM
b. demokrasi

3. bidang kebudayaan
a. lagu-lagu barat sudah banyak masuk ke Indonesia
c. tayangan lagu dan cerita barat terlalu banyak terutama di televisi swasta. Tampak seolah-olah tidak menghiraukan kesenian daerah atau Indonesia.
d. budaya konsumtif yang tidak puas belanja di dalam negeri.
4. kehidupan remaja
a. minum minuman keras.
b. Ikut-ikutan memakai narkoba
c. Bermain-main di klub malam
d. Melakukan tindakan kekerasan.
Ada empat faktor penyebab menyusutnya kondisi sosial atau kemasyarakat, yaitu :
1. pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sudah tinggi, membuat ekonomi masyarakat pada umumnya semakin meningkat.
2. akibat kemapuan daya beli meningkat, maka kewajaran manusia yang mencintai harta benda semakin terpenuhi.
3. gerakan emansipasi mempercepat proses memperkerjakan orang perempuan. Akibatnya banyak suami istri dalam keluarga bekerja keduanya.
Ketiga butir diatas tidak terlepas dari pengaruh globalisasi dunia.
Anita (1996) menggambarkan situasi keluarga dalam pasca modern ini sebagian besar
suami istri bekerja sama-sama mencari nafkah, angka perceraian yang tinggi, dan sejumlah keluarga hanya dengan satu orang tua saja. Sehingga, dapat dibayangkan bagaimana kualitas pendidikan dalam keluarga. Bagaimanakah sebaiknya tanggapan dan tindakan pendidikan terhadap kondisi masyarakat seperti ini? Pertama-tama adalah tanggapan terhadap kesadaran masyarakat dan remaja terhadap pendidikan. Kesadaran mereka kini cenderung positif dan selektif, tetapi ada sejumlah dari mereka yang dengan alasan tertentu bersikap positif tidak selektif. Jalan yang ditempuh untuk membendung kelompok ini adalah :
1. mutu sekolah dan perguruan tinggi ditingkatkan.
2. dengan cara melakukan akreditasi secara konsekuen.
3. yang tidak lulus akreditasi, harus bergabung satu dengan yang lain agar mutu meningkat.
4. seleksi penerimaan siswa atau mahasiswa harus dilakukan secara ketat.
Dengan cara ini diharapkan remaja dan orang-orang tidak ada yang belajar sekedar mencari ijazah, melainkan belajar untuk menjadi pandai dan berpribadi baik. Kedua, mengenai tanggapan dan tindakan kita terhadap kebudayaan termasuk pendidikannyang sudah digoyah oleh globalisasi, sebgaian besar masyarakat menekankan pada upaya memperkuat jati diri yang bersumber dari filsafat Pancasila. Hal ini sejalan dengan pikiran Takdir Alisyahbana (1992) yang menyatakan bahwa orang-orang berbicara tentang Pancasila pada hakikatnya lebih merupakan ucapan rutin daripada pikiran dan rencana yang jelas batas-batasnya.

Di samping memperkuat jati diri, ada hal-hal tertentu yang bisa dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan pengaruh globalisasi terhadap kebudayaan dan kehidupan remaja, antara lain :
1. membuat pembatasan kepada media elektronik terutama televisi yang sangat berpengaruh kepada kehidupan anak- anak dan remaja, untuk :
a. maksimal 50% menayangkan lagu-lagu luar negeri.
b. Minimal 50% menayangkan kesenian-kesenian daerah
c. Hanya menayangkan film aksi yang tidak berbau kekerasan.
d. Tidak menayangkan film-film yang mengundang erotis.
2. mendukung tindakan pemerintah terhadap upaya memerangi perilaku negatif para remaja, seperti :
a. memberantas minuman keras dan narkotika
b. mengurangi jumlah klub malam dan mengawasi tindakan-tindakan yang negatif.
c. menangkap dan menghukum mereka yang berkelahi.
d. meningkatkan mutu pendidikan sekolah, luar sekolah, dan keluarga.
e. memberikan penyaluran kegiatan yang positif atau pekerjaan yang pantas.
Ada beberapa tokoh yang menghendaki terjadinya pergeseran paradigma pendidikan antara lain oleh Rektor IKIP Yogyakarta dalam forum Simposium Nasional yang diadakan di Yogyakarta tahun 1996. dikatakan paradigma itu bergerak antara lain :
1. pendidikan adalah usaha sadar ke pendidikan sebagai usaha sadar dan tidak disadari.
2. pendidikan sekolah kependidikan sekolah dan luar sekolah
4. pendidikan dan pengajaran kebudayaan
5. proses asembling ke proses membangun dari awal.
Perubahan paradigma ini mungkin bias dilengkapi butir lain yang bersumber dari pemikiran Anita (1996) sebagai pemberi inspirasi, yaitu :
1. anak yang patuh ke anak yang mandiri
2. anak sebagai makhluk yang terlindungi, ke anak yang berkompetensi.
Inilah pendapat mereka tentang cara menaggulangi kondisi masyarakat dan keluarga di zaman sekarang.
Untuk membuat kebudayaan, termasuk pendidikan luar sekolah sebagai sesuatu yang
tidak selalu disadari oleh pendidik, menjadi wadah proses belajar sehingga anak dapat berkembang wajar sejak awal, membutuhkan sejumlah pembenahan.
1. kerjasama orang tua, masyarakat, dan pemerintah dalam memperbaiki pendidikan ditingkatkan.
2. pendidikan luar sekolah, termasuk pendidikan keluarga, ditangani secara serius, paling sedikit sama intensitasnya dengan penanganan pendidikan jalur sekolah.
3. kebudayaan, terutama tayangan televisi, yang paling banyak pengaruhnya terhadap perkembangan anak dan remaja, perlu ditangani dengan baik.
4. kebudayaan-kebudayaan negatif yang lain perlu dihilangkan dengan berbagai cara.
Selanjutnya untuk membuat anak menjadi madiri dan berkompetensi, yang sebetulnya
juga merupakan cita-cita pendidikan yang telah digariskan, merupakan persoalan metodologi belajar dan mengajar. Untuk itu, dalam masa transisi ini, kalau pendidikan akan direorganisasi, perlu :
1. memasukkan materi pelajaran yang diambil dari keadaan nyata di masyarakat atau keluarga.
2. metode belajar yang mengaktifkan siswa baik individual maupun kelompok
4. beberapa kali mengadakan survei di masyarakat tentang berbagai kebudayaan
5. ikut memecahkan masalah masyarakat dan keluarga.
6. memberi kesempatan berinovasi atau kreatif menciptakan sesuatu yang baru yang lebih baik tentang hidup dan kehidupan.

Kepustakaan :
Made, Pidarta, Prof. Dr. 2007. Landasan Kependidikan Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia , Rineka Cipta : Jakarta.