I. PENDAHULUAN
Memasuki abad ke-21, sistem pendidikan nasional menghadapi tantangan yang sangat kompleks dalam menyiapkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu bersaing di era global. Upaya yang tepat untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan satu-satunya wadah yang dapat dipandang dan seyogya berfungsi sebagai alat untuk membangun SDM yang bermutu tinggi adalah pendidikan.
Masalah utama dalam pembelajaran pada pendidikan formal (sekolah) dewasa ini adalah masih rendahnya daya serap peserta didik. Hal ini tampak dari rerata hasil belajar peserta didik yang masih memprihatinkan. Prestasi ini tentunya merupakan hasil kondisi pembelajaran yang masih bersifat konvensional dan tidak menyentuh ranah dimensi peserta didik itu sendiri, yaitu bagaimana sebenarnya belajar itu. Proses pembelajaran didominasi guru dan tidak memberikan akses bagi anak didik untuk berkembang secara mandiri melalui penemuan dalam proses berfikirnya.
Untuk meningkatkan prestasi, tentunya tidak terlepas dari upaya peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah. Berlakunya Kurikulum Berbasis Kompetensi yang telah direvisi melalui Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut perubahan paradigma dalam pendidikan dan pembelajaran, khususnya pada jenis dan jenjang pendidikan formal (persekolahan).
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebagai hasil pembaruan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), menghendaki bahwa suatu pembelajaran pada dasarnya tidak hanya mempelajari tentang konsep, teori, dan fakta tetapi juga aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian materi pelajaran tidak hanya tersusun atas hal-hal sederhana yang bersifat hafalan dan pemahaman, tetapi juga tersusun atas materi yang kompleks yang memerlukan analisis, aplikasi, dan sintesis. Dan di dalam standar isi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dijelaskan bahwa mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Di samping itu, dalam memulai pembelajaran Matematika hendaklah dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Untuk itu, guru harus menciptakan situasi dan kondisi kelas yang kondusif agar proses belajar mengajar dapat berlangsung sesuai dengan tujuan yang diharapkan, tidak hanya sekedar menghafal tetapi siswa digiring untuk membangun konsep di dalam dirinya sehingga pembelajaran akan menjadi bermakna bagi siswa.
Namun, pada kenyataannya apa yang diterapkan guru jauh dari tujuan yang diharapkan kurikulum. Guru selalu memulai pembelajaran dengan sesuatu yang formal seperti rumus-rumus dan siswa dipaksa menghafal konsep Matematika. Selain itu, guru juga tidak pernah mengkaitkan apa yang dipelajari siswa dengan kehidupan sehari-hari sehingga pembelajaran menjadi tidak bermakna. Pembelajaran yang konvensionalpun masih banyak diterapkan di kelas-kelas, guru menjadi pusat dan sumber belajar (teacher centered) sedangkan siswa hanya pasif menunggu transfer pengetahuan dari guru. Dari beberapa kenyataan di lapangan diperlukan suatu perubahan agar pembelajaran menjadi bermakna bagi siswa sehingga mereka dapat mengaplikasikan ilmu yang mereka dapat dalam kehidupannya. Untuk itu diperlukan suatu pendekatan pembelajaran yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Salah satunya yaitu pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme.
Pandangan pendekatan konstruktivisme adalah pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata (Trianto, 2009:113).
Dalam pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme, siswa dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna nagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Esensi dari teori konstruktivis adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki, informasi itu menjadi milik mereka sendiri.
Landasan berfikir konstruktivisme berbeda dengan pandangan kaum objektivis, yang lebih menekankan pada hasil pembelajaran. Dalam pandangan konstruktivisme, strategi lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan:
1) Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa
2) Memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri
3) Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar
Untuk membantu guru menggiring siswa mengkonstruksi konsep matematika, diperlukan suatu media pembelajaran. Keberhasilan pembelajaran sangat bergantung pada penggunaan sumber belajar atau media yang dipilih. Jika sumber-sumber pembelajaran atau media yang dipilih disiapkan dengan hati-hati, maka akan memenuhi tujuan pembelajaran antara lain memotivasi siswa dengan cara menarik dan menstimulasi perhatian pada materi pembelajaran, melibatkan siswa, menjelaskan dan menggambarkan isi materi pelajaran dan keterampilan-keterampilan kinerja, membantu pembentukan sikap dan pengembangan rasa menghargai (apresiasi), serta memberikan kesempatan untuk menganalisis sendiri kinerja individual (Trianto, 2009:185). Dan media pembelajaran yang diterapkan dalam pembelajaran ini adalah media yang berbasis komputer.

II. LANDASAN TEORI
1. Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Konstruktivisme
Pembelajaran Matematika menurut pandangan konstruktivistik (Nickson dalam Hudojo, 2005:20) adalah membantu siswa untuk membangun konsep-konsep/prinsip-prinsip matematika dengan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi sehingga konsep/prinsip itu terbangun kembali; transformasi informasi yang diperoleh menjadi konsep/prinsip baru. Transformasi tersebut mudah terjadi bila pemahaman terjadi karena terbentuknya skemata dalam benak siswa. Dengan demikian, pembelajaran matematika adalah membangun pemahaman.
Proses pembangunan pemahaman inilah yang lebih penting dari pada hasil belajar sebab pemahaman akan bermakna kepada materi yang dipelajari. Tekanan belajar tidak mengutamakan perolehan pengetahuan yang banyak, tetapi yang lebih utama adalah memberikan interpretasi melalui skemata yang dimiliki siswa. Di dalam pembelajaran, perolehan informasi tidak berlangsung satu arah dari sumber informasi ke penerima informasi, tetapi pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi sehingga skemata (jaringan konsep)nya menjadi mutakhir. Hal ini sejalan dengan teori belajar Piaget.
Menurut Piaget, manusia memiliki struktur kognitif berupa skemata, yaitu kotak-kotak informasi (skema) yang berbeda-beda. Setiap pengalaman akan dihubungkan dengan kotak informasi ini. Struktur kognitif seseorang dikembangkan melalui dua cara, yaitu asimilasi dan akomodasi, sebagai hasil interaksinya dengan lingkungan. Ini berarti proses pembelajaran merupakan pengelolaan pemrosesan ide dalam benak siswa sehingga dalam interaksi belajar-mengajar matematika tidak semata-mata pengelolaan siswa, lingkungan dan fasilitas belajarnya. Pengetahuan harus dibangun oleh siswa sendiri berdasarkan pengalaman/pengetahuan yang dimiliki sebelumnya (Skemp dalam Hudojo, 2005:20).
Pengertian pendekatan konstruktivisme adalah pendekatan yang mengajak siswa untuk berpikir dan mengkonstruksi dalam memecahkan suatu permasalahan secara bersama-sama sehingga didapatkan suatu penyelesaian yang akurat.
Tiga penekanan dalam teori belajar dengan pendekatan konstruktivisme sebagai berikut: peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna, pentingnya membuat kaitan antara gagasan dalam mengkonstruksian pengetahuan tersebut dan mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima.
Dari prinsip utama dalam pembelajaran dengan metode pendekatan belajar kontruktivisme adalah pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif, tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa dan fungsi kognitif bersifat adatif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiliki anak.
Kedua pengertian di atas menekankan bagaimana pentingnya keterlibatan anak secara aktif dalam proses belajar matematika dengan pengaitan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu pengetahuan melalui lingkungannya. Seseorang akan lebih muda mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang telah diketahui orang lain. Oleh karena itu, untuk mempelajari suatu materi matematika yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi terjadinya proses belajar matematika itu sendiri.
Selain penekanan dan tahap-tahap tertentu yang perlu diperhatikan dalam metode pendekatan belajar konstruktivisme, Hanbury (1996:3) mengemukakan,
sejumlah aspek dalam kaitannya dalam pembelajaran matematika, yaitu (1) siswa mengkontruksi pengetahuan matematika dengan cara mengintegrasikan ide yang mereka miliki, (2) matematika menjadi lebih bermakna karena siswa mengerti, (3) strategi siswa lebih bernilai dan, (4) siswa mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan temannya.
Untuk meningkatkan keberhasilan siswa dalam belajar matematika dengan menggunakan metode pendekatan konstruktivisme adalah: (1)memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri, (2) memberi kesempatan kepada siswa untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif, (3) memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru, (4) memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa, (5) mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka, dan (6) menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
Dari beberapa pandangan diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang mengacu kepada metode pendekatan konstruktivisme lebih memfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. bukan kepatuhan siswa dalam merefleksikan atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Dengan kata lain, siswa lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi.
Pembelajaran dengan teori belajar konstruktivisme meliputi empat kegiatan, antara lain (1) berkaitan dengan prior knowledge siswa artinya guru dapat melihat kemampuan siswa dalam belajar matematika, (2) mengandung kegiatan pengalaman nyata (experiences) artinya belajar dengan pendekatan konstruktivisme dapat diambil dari pengalaman atau dalam kehidupan sehari-hari, (3) terjadi interaksi sosial (social interaction) maksudnya pembelajaran matematika dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat dan (4) terbentuknya kepekaan terhadap lingkungan (sense making) maksudnya pembelajaran dapat membentuk sifat saling kerja sama.
Proses pembelajaran dengan teori belajar konstruktivisme sebagai berikut: (1) siapkan benda-benda nyata untuk digunakan oleh para siswa, (2) pilihlah pendekatan yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak, (3) perkenalkan kegiatan yang layak dan menarik serta beri kebebasan anak untuk menolak saran guru, (4) tekankan penciptaan pertanyaan dan masalah serta pemecahannya, (5) anjurkan siswa untuk saling berinteraksi, (6) hindarilah istilah teknis dan tekankan berpikir, (7) dianjurkan mereka berpikir dengan cara sendiri, dan (8) perkenalkan kembali materi dan kegiatan yang sama setelah beberapa tahun lamanya. Dari proses pembelajaran matematika dengan pendekatan konstruktivisme dapat memberikan suatu solusi dalam memecahkan masalah yang sedang dihadapi oleh siswa (Dahar,1989:160).
Secara umum, pembelajaran matematika dengan metode pendekatan konstruktivisme meliputi empat tahap : (1) tahap persepsi (mengungkap konsepsi awal dan membangkitkan motivasi belajar siswa), siswa didorong agar mengemukakan pengetahuan awalnya tentang konsep yang akan dibahas. Bila perlu, guru memancing dengan pertanyaan problematis tentang fenomena yang sering dijumpai sehari-hari oleh siswa dan mengaitkannya dengan konsep yang akan dibahas. Selanjutnya, siswa diberi kesempatan untuk mengkomunikasikan dan mengilustrasikan pemahamannya tentang konsep tersebut, (2) tahap eksplorasi siswa diberi kesempatan untuk menyelidiki dan menemukan konsep melalui pengumpulan, pengorganisasian dan menginterprestasikan data dalam suatu kegiatan yang telah dirancang oleh guru. Secara keseluruhan pada tahap ini akan terpenuhi rasa keingintahuan siswa tentang fenomena dalam lingkungannya, (3) tahap diskusi dan penjelasan konsep siswa memikirkan penjelasan dan solusi yang didasarkan pada hasil observasi siswa, di tambah dengan penguatan guru. Selanjutnya, siswa membangun pemahaman baru tentang konsep yang sedang dipelajari, dan (4) tahap pengembangan dan aplikasi konsep guru berusaha menciptakan iklim pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat mengaplikasikan pemahaman konseptualnya, baik melalui kegiatan maupun melalui pemunculan masalah-masalah yang berkaitan dengan isu-isu dalam lingkungan siswa tersebut. (Horsley, 1990:59).
Hal-hal yang harus dilakukan oleh guru agar dapat mengajarkan matematika dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme adalah memberikan kesempetan kepada siswa untuk menyelesaikan masalah matematika dengan caranya sendiri dengan kemampuan yang dimiliki dalam pikirannya, artinya siswa diberi kesempatan melakukan refleksi, interpretasi dan mencari strateginya yang sesuai. Rekonstruksi terjadi bila siswa dalam aktivitasnya melakukan refleksi, interprestasi, dan internalisasi, rekonstruksi ini dimungkinkan terjadi dengan probabilitas yang lebih besar melalui diskusi, baik dalam kelompok kecil maupun diskusi kelas atau berbagai bentuk interaksi dan negosiasi.
Keuntungan belajar matematika dengan pendekatan konstruktivisme adalah:
a. siswa dapat membangun pengetahuannya sendiri sehingga siswa tidak mudah lupa dengan pengetahuannya
b. menciptakan suasana belajar yang menyenangkan karena menggunakan realitas kehidupan sehingga siswa tidak cepat bosan untuk belajar matematika, siswa merasa dihargai dan semakin terbuka karena setiap siswa ada nilai atas usahanya
c. memupuk kerja sama dalam kelompok dan melatih siswa untuk terbiasa berpikir serta mengemukakan pendapat.

Kelemahannya belajar matematika dengan pendekatan konstruktivime adalah :
a. siswa sudah terbiasa diberi informasi terlebih dahulu maka siswa masih kesulitan dalam menemukan jawabannya sendiri
b. membutuhkan waktu yang lama terutama bagi siswa yang lemah pemikirannya
c. siswa yang pandai kadang-kadang tidak sabar untuk menanti temannya yang belum menemukan jawaban.
Pembelajaran matematika dalam pandangan konstruktivistik antara lain bercirikan sebagai berikut:
1) Siswa terlibat aktif dalam belajarnya. Siswa belajar materi matematika secara bermakna dengan bekerja dan berpikir. Siswa belajar bagaimana belajar itu
2) Informasi baru harus dikaitkan dengan informasi lain sehingga menyatu dengan skemata yang dimiliki siswa agar pemahaman terhadap informasi (materi) kompleks terjadi
3) Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah. (Hudojo, 2005:20)

Berdasarkan ciri-ciri pembelajaran matematika dalam pandangan konstruktivistik, prinsip-prinsip konstruktivisme yang digunakan dalam pembelajaran matematika antara lain (Hadi, 2005):
a. Pengetahuan dibangun sendiri oleh siswa, baik secara personal maupun sosial
b. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke siswa
c. Pengetahuan diperoleh siswa hanya dengan keaktifan sendiri
d. Siswa terus aktif mengkonstruksi pengetahuannya sehingga konsep yang dimilikinya menjadi rinci, lengkap, dan ilmiah
e. Guru hanya menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi berjalan mulus
Sebagai implikasi dari ciri-ciri dan prinsip konstruktivisme terhadap pembelajaran matematika, maka lingkungan belajar perlu diupayakan sebagai berikut:
1) Menyediakan pengalaman belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki oleh siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukkan pengetahuan
2) Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar, tidak semua mengerjakan tugas yang sama, misalnya suatu masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara
3) Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkret, misalnya untuk memahami suatu konsep matematika melalui kenyataan dalam kehidupan sehari-hari
4) Mengintergrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerjasama seseorang dengan orang lain atau dengan lingkungannya, misalnya interaksi dan kerjasama antara siswa, guru, siswa-siswa
5) Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif
6) Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga matematika menjadi menarik dan siswa mau belajar (Hudojo, 2005:21)
Dari syarat lingkungan belajar dalam pembelajaran matematika dengan pendekatan konstruktivisme di atas, media adalah salah satu hal yang harus diperhatikan oleh guru. Salah satu media yang dapat membantu guru dalam memfasilitasi siswa mengkonstruk pengetahuannya adalah media pembelajaran berbasis komputer.
2. Penggunaan Media Berbasis Komputer dalam Pembelajaran Matematika
Ada beberapa pengertian dan definisi dari media pembelajaran. Dalam bukunya Media Pendidikan, Sadiman (1996:6) mengemukakan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, dan minat serta perhatian sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi. Sedangkan menurut E. De Corte dalam Winkel (1999:285), media dapat diartikan sebagai suatu sarana nonpersonal (bukan manusia) yang digunakan dan disediakan oleh tenaga pengajar untuk mencapai tujuan instruksional. Dari pendapat-pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa media adalah sarana atau alat bantu yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi dari pendidik kepada peserta didik yang menarik minat dan perhatian sehingga proses belajar terjadi.
Sudjana dan Rivai (2002:2) mengemukakan manfaat media pembelajaran dalam proses belajar siswa, yaitu:
1) Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar
2) Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pengajaran
3) Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak hanya komunikasi verbal oleh guru sehingga siswa tidak merasa bosan
4) Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, mempresentasikan, mendemonstrasikan, dan lain-lain.
Dari berbagai jenis media, salah satu media yang menjadi trend adalah media pembelajaran berbasis komputer. Penggunanaan komputer sebagai media pengajaran in dikenal dengan nama pengajaran dengan bantuan komputer atau Computer Assisted Instruction (CAI) atau Computer Assisted Learning (CAL). Interaksi dalam lingkungan pengajaran berbasis komputer memiliki 3 unsur, yaitu urut-urutan instruksional yang dapat disesuaikan, jawaban, respons atau pekerjaan dari siswa, umpan balik tepat yang disesuaikan.
Penggunaan komputer sebagai media pengajaran pada umumnya mengikuti proses instruksional sebagai berikut:
a. Merencanakan, mengatur dan mengorganisasikan, dan menjadwalkan pengajaran.
b. Mengevaluasi siswa (tes)
c. Mengumpulkan data mengenai siswa.
d. Melakukan analisis statistik mengenai data pembelajaran.
e. Membuat catatan perkembangan pembelajaran (kelompok atau perseorangan).
Dilihat dari situasi belajar, komputer digunakan untuk tujuan menyajikan pelajaran. Dalam hal ini, informasi atau pesan berupa konsep disajikan di layar komputer dengan teks, gambar, atau grafik. Pada saat yang tepat siswa diperkirakan telah membaca, menginterpretasi, dan menyerap konsep yang disajikan.
Menurut Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (2002: 137-138) ada beberapa keuntungan dalam mendayagunakan komputer dalam pembelajaran, yaitu: 1) membangkitkan motivasi kepada peserta didik dalam belajar, 2) warna, musik, dan grafis animasi dapat menambahkan kesan realisme, 3) menghasilkan penguatan yang tinggi, 4) kemampuan memori memungkinkan penampilan peserta didik yang telah lampau direkam dan dipakai dalam merencanakan langkah-langkah selanjutnya di kemudian hari, 5) berguna sekali untuk peserta didik yang lamban, 6) kemampuan daya rekamnya memungkinkan pengajaran individual bisa dilaksanakan, 7) rentang pengawasan guru diperlebar sejalan dengan banyaknya informasi yang disajikan dengan mudah yang diatur oleh guru, dan membantu pengawasan lebih dekat kepada kontak langsung dengan para peserta didik.
Komputer dapat digunakan sebagai alat mengajar utama untuk memberi penguatan belajar awal, merangsang dan memotivasi belajar, atau untuk berbagai jenis kemungkinan lainnya. Banyak manfaat yang diperoleh dari fleksibelitas komputer ini karena dapat memasukan video, audio, elemen-elemen grafis, bentuk-bentuk, proses, peran dan tanggung jawab lainnya.
Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan media berbasis komputer, guru perlu memahami tahap-tahap penggunaan media berbasis komputer. Sebelum memulai pembelajaran, guru harus mempersiapkan perlengkapan yang dibutuhkan dan juga mempersiapkan siswa agar dapat mengikuti, mencatat, menganalisis, mengkritik, dan lain-lain dari informasi yang akan didapat dari media yang digunakan. Dan kegiatan pembelajarannya meliputi 3 tahap, yaitu:

a. Tahap Pengumpulan Informasi
Pada tahap pengumpulan informasi, siswa akan mengumpulkan sejumlah informasi dari software matematika dengan mengikuti petunjuk penggunaan yang telah disiapkan oleh guru. Pada tahap ini, siswa bekerja secara individual.
b. Tahap Lanjutan (diskusi)
Tahap lanjutan atau tahap diskusi adalah tahap pembelajaran untuk mengolah informasi yang didapat dari tahap pengumpulan informasi dengan kegiatan belajar diskusi yang ditujukan untuk mempertajam pemahaman siswa.
c. Tahap aplikasi (pemberian tugas)
Pemberian tugas ditujukan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Pemecahan masalah ini berdasarkan informasi yang diperoleh dari tahap pengumpulan informasi dan pengolahan informasi pada tahap lanjutan (diskusi).

3. Implikasi Penggunaan Media Berbasis Komputer dalam Pembelajaran Geometri dengan Pendekatan Konstruktivisme
Dari uraian mengenai tahap-tahap pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme dan tahap-tahap pembelajaran menggunakan media berbasis komputer, penulis mendefinisikan tahap-tahap pembelajaran matematika berdasarkan pendekatan konstruktivisme dengan menggunakan media berbasis komputer adalah:
a. tahap persepsi (mengungkap konsepsi awal dan membangkitkan motivasi belajar siswa). Pada tahap ini siswa diberikan foto-foto tentang bangun datar yang dijumpai siswa dalam kehidupan sehari-hari dan meminta siswa memberikan nama dari bangun-bangun datar tersebut. Siswa diminta untuk memberikan persamaan dan perbedaan dari bangun-bangun datar tersebut. Pengetahuan awal siswa akan dikaitkan dengan konsep baru yang akan mereka pelajari. Pembelajaran pada tahap ini sesuai dengan teori belajar Ausubel yang menyatakan bahwa belajar bermakna timbul jika siswa mencoba menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang dimilikinya.
b. tahap eksplorasi, guru menggunakan media berbasis komputer. Siswa diberi kesempatan untuk menyelidiki dan menemukan konsep dengan menggunakan software matematika yang telah dirancang guru. Dalam menemukan konsep baru siswa dibantu dengan LKS yang telah diberikan guru. Setelah mengikuti petunjuk penggunaan komputer, siswa melengkapi LKS sebagai suatu kesimpulan yang dapat mereka tarik. Siswa terlibat aktif dalam menemukan konsep baru dengan mengamati sisi, sudut, diagonal, simetri lipat dan simetri putar dari bangun-bangun datar dan membuat hubungan sifat-sifat dari beberapa bangun datar, hal ini sejalan dengan pandangan Bruner bahwa siswa belajar melalui keterlibatan aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip dalam memecahkan masalah dan guru berfungsi sebagai motivator bagi siswa dalam mendapatkan pengalaman yang memungkinkan mereka menemukan dan memecahkan masalah.
c. tahap diskusi dan penjelasan konsep, siswa memikirkan penjelasan dan solusi yang didasarkan pada hasil observasi siswa, ditambah dengan penguatan guru. Pada tahap ini siswa mendiskusikan materi yang mereka dapat dari penggunaan komputer. Selanjutnya, siswa dapat membangun pemahaman baru tentang konsep yang sedang dipelajari. Pembelajaran pada tahap ini ssuai dengan teori konstruktivisme Piaget yang menyatakan pengetahuan dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. Sedangkan, akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru, sehingga informasi tersebut mempunyai tempat.
d. tahap pengembangan dan aplikasi konsep, untuk mendalami pemahaman konsep guru memberikan masalah-masalah yang akan digunakan siswa untuk mengaplikasikan konsep yang telah mereka miliki.

III. Penutup
Metode yang terbaik dikemukakan oleh Horsley yaitu pembelajaran matematika dengan metode pendekatan konstruktivisme meliputi empat tahap: (1) tahap persepsi (mengungkap konsepsi awal dan membangkitkan motivasi belajar siswa), (2) tahap eksplorasi, (3) tahap diskusi dan penjelasan konsep, dan (4) tahap pengembangan dan aplikasi konsep.
Hal-hal yang harus dilakukan oleh guru agar dapat mengajarkan matematika dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme adalah memberikan kesempetan kepada siswa untuk menyelesaikan masalah matematika dengan caranya sendiri dengan kemampuan yang dimiliki dalam pikirannya, artinya siswa diberi kesempatan melakukan refleksi, interpretasi dan mencari strateginya yang sesuai. Rekonstruksi terjadi bila siswa dalam aktivitasnya melakukan refleksi, interprestasi, dan internalisasi, rekonstruksi ini dimungkinkan terjadi dengan probabilitas yang lebih besar melalui diskusi, baik dalam kelompok kecil maupun diskusi kelas atau berbagai bentuk interaksi dan negosiasi.
Untuk membantu guru memfasilitasi situasi belajar yang dapat merangsang siswa mengkonstruksi pengetahuannya adalah dengan menggunakan media pembelajaran, salah satunya media pembelajaran berbasis komputer. Penggunaan media berbasis komputer dalam pembelajaran matematika dengan pendekatan konstruktivisme diharapkan siswa dapat berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta mampu bekerjasama.

Daftar Pustaka
Aisyah, Nyimas. 2007. Pengembangan Pembelajaran Matematika SD. Dirjen Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional
Arfan, Rahma. 2009. Media Pembelajaran Berbasis Komputer diakses dari http://dirahma.blogspot.com/2009/05/media-pembelajaran-berbasis-komputer.html pada tanggal 20 Mei 2009
Dahar, R W. 1989. Teori–teori Belajar. Jakarta: Erlangga.
Hanbury, L. 1996. Contructivism So What? In J. Wakefield and L. Velardi (Eds).Calaberating Mathematics Learning (pp.3-8). Melbourne. The Mathematical Assciation of Victoria.
Horsley, S.L.. 1990. Elementary School Science for the 90S. Virginia: Association Supervision and Curriculum Development.
Hudojo, Herman. 2005. Kapita Selekta Pembelajaran Matematika. Malang: Universitas Negeri Malang
Oktanisa, Silvana. 2007. Mengajar Matematika dengan Menggunakan Metode Pendekatan Konstruktivisme diakses dari http://guru-beasiswa.blogspot.com/2007/12/mengajar-matematika-dengan-menggunakan.html
Russefendi. 1988. Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito
Sadiman. A. S. 2006. Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sudjana, Nana & Rivai, Ahmad. 2002. Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algensindo
Suparno, Paul. 1997. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius
Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana
Winkel, W. S. 1999. Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta

About these ads