I. PENDAHULUAN
Memasuki abad ke-21, sistem pendidikan nasional menghadapi tantangan yang sangat kompleks dalam menyiapkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu bersaing di era global. Upaya yang tepat untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan satu-satunya wadah yang dapat dipandang dan seyogya berfungsi sebagai alat untuk membangun SDM yang bermutu tinggi adalah pendidikan.
Masalah utama dalam pembelajaran pada pendidikan formal (sekolah) dewasa ini adalah masih rendahnya daya serap peserta didik. Hal ini tampak dari rerata hasil belajar peserta didik yang masih memprihatinkan. Prestasi ini tentunya merupakan hasil kondisi pembelajaran yang masih bersifat konvensional dan tidak menyentuh ranah dimensi peserta didik itu sendiri, yaitu bagaimana sebenarnya belajar itu. Proses pembelajaran didominasi guru dan tidak memberikan akses bagi anak didik untuk berkembang secara mandiri melalui penemuan dalam proses berfikirnya.
Untuk meningkatkan prestasi, tentunya tidak terlepas dari upaya peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah. Berlakunya Kurikulum Berbasis Kompetensi yang telah direvisi melalui Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut perubahan paradigma dalam pendidikan dan pembelajaran, khususnya pada jenis dan jenjang pendidikan formal (persekolahan).
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebagai hasil pembaruan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), menghendaki bahwa suatu pembelajaran pada dasarnya tidak hanya mempelajari tentang konsep, teori, dan fakta tetapi juga aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian materi pelajaran tidak hanya tersusun atas hal-hal sederhana yang bersifat hafalan dan pemahaman, tetapi juga tersusun atas materi yang kompleks yang memerlukan analisis, aplikasi, dan sintesis. Dan di dalam standar isi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dijelaskan bahwa mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Di samping itu, dalam memulai pembelajaran Matematika hendaklah dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Untuk itu, guru harus menciptakan situasi dan kondisi kelas yang kondusif agar proses belajar mengajar dapat berlangsung sesuai dengan tujuan yang diharapkan, tidak hanya sekedar menghafal tetapi siswa digiring untuk membangun konsep di dalam dirinya sehingga pembelajaran akan menjadi bermakna bagi siswa.
Namun, pada kenyataannya apa yang diterapkan guru jauh dari tujuan yang diharapkan kurikulum. Guru selalu memulai pembelajaran dengan sesuatu yang formal seperti rumus-rumus dan siswa dipaksa menghafal konsep Matematika. Selain itu, guru juga tidak pernah mengkaitkan apa yang dipelajari siswa dengan kehidupan sehari-hari sehingga pembelajaran menjadi tidak bermakna. Pembelajaran yang konvensionalpun masih banyak diterapkan di kelas-kelas, guru menjadi pusat dan sumber belajar (teacher centered) sedangkan siswa hanya pasif menunggu transfer pengetahuan dari guru. Dari beberapa kenyataan di lapangan diperlukan suatu perubahan agar pembelajaran menjadi bermakna bagi siswa sehingga mereka dapat mengaplikasikan ilmu yang mereka dapat dalam kehidupannya. Untuk itu diperlukan suatu pendekatan pembelajaran yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Salah satunya yaitu pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme.
Pandangan pendekatan konstruktivisme adalah pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata (Trianto, 2009:113).
Dalam pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme, siswa dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna nagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Esensi dari teori konstruktivis adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki, informasi itu menjadi milik mereka sendiri.
Landasan berfikir konstruktivisme berbeda dengan pandangan kaum objektivis, yang lebih menekankan pada hasil pembelajaran. Dalam pandangan konstruktivisme, strategi lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan:
1) Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa
2) Memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri
3) Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar
Untuk membantu guru menggiring siswa mengkonstruksi konsep matematika, diperlukan suatu media pembelajaran. Keberhasilan pembelajaran sangat bergantung pada penggunaan sumber belajar atau media yang dipilih. Jika sumber-sumber pembelajaran atau media yang dipilih disiapkan dengan hati-hati, maka akan memenuhi tujuan pembelajaran antara lain memotivasi siswa dengan cara menarik dan menstimulasi perhatian pada materi pembelajaran, melibatkan siswa, menjelaskan dan menggambarkan isi materi pelajaran dan keterampilan-keterampilan kinerja, membantu pembentukan sikap dan pengembangan rasa menghargai (apresiasi), serta memberikan kesempatan untuk menganalisis sendiri kinerja individual (Trianto, 2009:185). Dan media pembelajaran yang diterapkan dalam pembelajaran ini adalah media yang berbasis komputer.

II. LANDASAN TEORI
1. Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Konstruktivisme
Pembelajaran Matematika menurut pandangan konstruktivistik (Nickson dalam Hudojo, 2005:20) adalah membantu siswa untuk membangun konsep-konsep/prinsip-prinsip matematika dengan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi sehingga konsep/prinsip itu terbangun kembali; transformasi informasi yang diperoleh menjadi konsep/prinsip baru. Transformasi tersebut mudah terjadi bila pemahaman terjadi karena terbentuknya skemata dalam benak siswa. Dengan demikian, pembelajaran matematika adalah membangun pemahaman.
Proses pembangunan pemahaman inilah yang lebih penting dari pada hasil belajar sebab pemahaman akan bermakna kepada materi yang dipelajari. Tekanan belajar tidak mengutamakan perolehan pengetahuan yang banyak, tetapi yang lebih utama adalah memberikan interpretasi melalui skemata yang dimiliki siswa. Di dalam pembelajaran, perolehan informasi tidak berlangsung satu arah dari sumber informasi ke penerima informasi, tetapi pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi sehingga skemata (jaringan konsep)nya menjadi mutakhir. Hal ini sejalan dengan teori belajar Piaget.
Menurut Piaget, manusia memiliki struktur kognitif berupa skemata, yaitu kotak-kotak informasi (skema) yang berbeda-beda. Setiap pengalaman akan dihubungkan dengan kotak informasi ini. Struktur kognitif seseorang dikembangkan melalui dua cara, yaitu asimilasi dan akomodasi, sebagai hasil interaksinya dengan lingkungan. Ini berarti proses pembelajaran merupakan pengelolaan pemrosesan ide dalam benak siswa sehingga dalam interaksi belajar-mengajar matematika tidak semata-mata pengelolaan siswa, lingkungan dan fasilitas belajarnya. Pengetahuan harus dibangun oleh siswa sendiri berdasarkan pengalaman/pengetahuan yang dimiliki sebelumnya (Skemp dalam Hudojo, 2005:20).
Pengertian pendekatan konstruktivisme adalah pendekatan yang mengajak siswa untuk berpikir dan mengkonstruksi dalam memecahkan suatu permasalahan secara bersama-sama sehingga didapatkan suatu penyelesaian yang akurat.
Tiga penekanan dalam teori belajar dengan pendekatan konstruktivisme sebagai berikut: peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna, pentingnya membuat kaitan antara gagasan dalam mengkonstruksian pengetahuan tersebut dan mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima.
Dari prinsip utama dalam pembelajaran dengan metode pendekatan belajar kontruktivisme adalah pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif, tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa dan fungsi kognitif bersifat adatif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiliki anak.
Kedua pengertian di atas menekankan bagaimana pentingnya keterlibatan anak secara aktif dalam proses belajar matematika dengan pengaitan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu pengetahuan melalui lingkungannya. Seseorang akan lebih muda mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang telah diketahui orang lain. Oleh karena itu, untuk mempelajari suatu materi matematika yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi terjadinya proses belajar matematika itu sendiri.
Selain penekanan dan tahap-tahap tertentu yang perlu diperhatikan dalam metode pendekatan belajar konstruktivisme, Hanbury (1996:3) mengemukakan,
sejumlah aspek dalam kaitannya dalam pembelajaran matematika, yaitu (1) siswa mengkontruksi pengetahuan matematika dengan cara mengintegrasikan ide yang mereka miliki, (2) matematika menjadi lebih bermakna karena siswa mengerti, (3) strategi siswa lebih bernilai dan, (4) siswa mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan temannya.
Untuk meningkatkan keberhasilan siswa dalam belajar matematika dengan menggunakan metode pendekatan konstruktivisme adalah: (1)memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri, (2) memberi kesempatan kepada siswa untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif, (3) memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru, (4) memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa, (5) mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka, dan (6) menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
Dari beberapa pandangan diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang mengacu kepada metode pendekatan konstruktivisme lebih memfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. bukan kepatuhan siswa dalam merefleksikan atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Dengan kata lain, siswa lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi.
Pembelajaran dengan teori belajar konstruktivisme meliputi empat kegiatan, antara lain (1) berkaitan dengan prior knowledge siswa artinya guru dapat melihat kemampuan siswa dalam belajar matematika, (2) mengandung kegiatan pengalaman nyata (experiences) artinya belajar dengan pendekatan konstruktivisme dapat diambil dari pengalaman atau dalam kehidupan sehari-hari, (3) terjadi interaksi sosial (social interaction) maksudnya pembelajaran matematika dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat dan (4) terbentuknya kepekaan terhadap lingkungan (sense making) maksudnya pembelajaran dapat membentuk sifat saling kerja sama.
Proses pembelajaran dengan teori belajar konstruktivisme sebagai berikut: (1) siapkan benda-benda nyata untuk digunakan oleh para siswa, (2) pilihlah pendekatan yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak, (3) perkenalkan kegiatan yang layak dan menarik serta beri kebebasan anak untuk menolak saran guru, (4) tekankan penciptaan pertanyaan dan masalah serta pemecahannya, (5) anjurkan siswa untuk saling berinteraksi, (6) hindarilah istilah teknis dan tekankan berpikir, (7) dianjurkan mereka berpikir dengan cara sendiri, dan (8) perkenalkan kembali materi dan kegiatan yang sama setelah beberapa tahun lamanya. Dari proses pembelajaran matematika dengan pendekatan konstruktivisme dapat memberikan suatu solusi dalam memecahkan masalah yang sedang dihadapi oleh siswa (Dahar,1989:160).
Secara umum, pembelajaran matematika dengan metode pendekatan konstruktivisme meliputi empat tahap : (1) tahap persepsi (mengungkap konsepsi awal dan membangkitkan motivasi belajar siswa), siswa didorong agar mengemukakan pengetahuan awalnya tentang konsep yang akan dibahas. Bila perlu, guru memancing dengan pertanyaan problematis tentang fenomena yang sering dijumpai sehari-hari oleh siswa dan mengaitkannya dengan konsep yang akan dibahas. Selanjutnya, siswa diberi kesempatan untuk mengkomunikasikan dan mengilustrasikan pemahamannya tentang konsep tersebut, (2) tahap eksplorasi siswa diberi kesempatan untuk menyelidiki dan menemukan konsep melalui pengumpulan, pengorganisasian dan menginterprestasikan data dalam suatu kegiatan yang telah dirancang oleh guru. Secara keseluruhan pada tahap ini akan terpenuhi rasa keingintahuan siswa tentang fenomena dalam lingkungannya, (3) tahap diskusi dan penjelasan konsep siswa memikirkan penjelasan dan solusi yang didasarkan pada hasil observasi siswa, di tambah dengan penguatan guru. Selanjutnya, siswa membangun pemahaman baru tentang konsep yang sedang dipelajari, dan (4) tahap pengembangan dan aplikasi konsep guru berusaha menciptakan iklim pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat mengaplikasikan pemahaman konseptualnya, baik melalui kegiatan maupun melalui pemunculan masalah-masalah yang berkaitan dengan isu-isu dalam lingkungan siswa tersebut. (Horsley, 1990:59).
Hal-hal yang harus dilakukan oleh guru agar dapat mengajarkan matematika dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme adalah memberikan kesempetan kepada siswa untuk menyelesaikan masalah matematika dengan caranya sendiri dengan kemampuan yang dimiliki dalam pikirannya, artinya siswa diberi kesempatan melakukan refleksi, interpretasi dan mencari strateginya yang sesuai. Rekonstruksi terjadi bila siswa dalam aktivitasnya melakukan refleksi, interprestasi, dan internalisasi, rekonstruksi ini dimungkinkan terjadi dengan probabilitas yang lebih besar melalui diskusi, baik dalam kelompok kecil maupun diskusi kelas atau berbagai bentuk interaksi dan negosiasi.
Keuntungan belajar matematika dengan pendekatan konstruktivisme adalah:
a. siswa dapat membangun pengetahuannya sendiri sehingga siswa tidak mudah lupa dengan pengetahuannya
b. menciptakan suasana belajar yang menyenangkan karena menggunakan realitas kehidupan sehingga siswa tidak cepat bosan untuk belajar matematika, siswa merasa dihargai dan semakin terbuka karena setiap siswa ada nilai atas usahanya
c. memupuk kerja sama dalam kelompok dan melatih siswa untuk terbiasa berpikir serta mengemukakan pendapat.

Kelemahannya belajar matematika dengan pendekatan konstruktivime adalah :
a. siswa sudah terbiasa diberi informasi terlebih dahulu maka siswa masih kesulitan dalam menemukan jawabannya sendiri
b. membutuhkan waktu yang lama terutama bagi siswa yang lemah pemikirannya
c. siswa yang pandai kadang-kadang tidak sabar untuk menanti temannya yang belum menemukan jawaban.
Pembelajaran matematika dalam pandangan konstruktivistik antara lain bercirikan sebagai berikut:
1) Siswa terlibat aktif dalam belajarnya. Siswa belajar materi matematika secara bermakna dengan bekerja dan berpikir. Siswa belajar bagaimana belajar itu
2) Informasi baru harus dikaitkan dengan informasi lain sehingga menyatu dengan skemata yang dimiliki siswa agar pemahaman terhadap informasi (materi) kompleks terjadi
3) Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah. (Hudojo, 2005:20)

Berdasarkan ciri-ciri pembelajaran matematika dalam pandangan konstruktivistik, prinsip-prinsip konstruktivisme yang digunakan dalam pembelajaran matematika antara lain (Hadi, 2005):
a. Pengetahuan dibangun sendiri oleh siswa, baik secara personal maupun sosial
b. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke siswa
c. Pengetahuan diperoleh siswa hanya dengan keaktifan sendiri
d. Siswa terus aktif mengkonstruksi pengetahuannya sehingga konsep yang dimilikinya menjadi rinci, lengkap, dan ilmiah
e. Guru hanya menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi berjalan mulus
Sebagai implikasi dari ciri-ciri dan prinsip konstruktivisme terhadap pembelajaran matematika, maka lingkungan belajar perlu diupayakan sebagai berikut:
1) Menyediakan pengalaman belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki oleh siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukkan pengetahuan
2) Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar, tidak semua mengerjakan tugas yang sama, misalnya suatu masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara
3) Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkret, misalnya untuk memahami suatu konsep matematika melalui kenyataan dalam kehidupan sehari-hari
4) Mengintergrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerjasama seseorang dengan orang lain atau dengan lingkungannya, misalnya interaksi dan kerjasama antara siswa, guru, siswa-siswa
5) Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif
6) Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga matematika menjadi menarik dan siswa mau belajar (Hudojo, 2005:21)
Dari syarat lingkungan belajar dalam pembelajaran matematika dengan pendekatan konstruktivisme di atas, media adalah salah satu hal yang harus diperhatikan oleh guru. Salah satu media yang dapat membantu guru dalam memfasilitasi siswa mengkonstruk pengetahuannya adalah media pembelajaran berbasis komputer.
2. Penggunaan Media Berbasis Komputer dalam Pembelajaran Matematika
Ada beberapa pengertian dan definisi dari media pembelajaran. Dalam bukunya Media Pendidikan, Sadiman (1996:6) mengemukakan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, dan minat serta perhatian sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi. Sedangkan menurut E. De Corte dalam Winkel (1999:285), media dapat diartikan sebagai suatu sarana nonpersonal (bukan manusia) yang digunakan dan disediakan oleh tenaga pengajar untuk mencapai tujuan instruksional. Dari pendapat-pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa media adalah sarana atau alat bantu yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi dari pendidik kepada peserta didik yang menarik minat dan perhatian sehingga proses belajar terjadi.
Sudjana dan Rivai (2002:2) mengemukakan manfaat media pembelajaran dalam proses belajar siswa, yaitu:
1) Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar
2) Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pengajaran
3) Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak hanya komunikasi verbal oleh guru sehingga siswa tidak merasa bosan
4) Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, mempresentasikan, mendemonstrasikan, dan lain-lain.
Dari berbagai jenis media, salah satu media yang menjadi trend adalah media pembelajaran berbasis komputer. Penggunanaan komputer sebagai media pengajaran in dikenal dengan nama pengajaran dengan bantuan komputer atau Computer Assisted Instruction (CAI) atau Computer Assisted Learning (CAL). Interaksi dalam lingkungan pengajaran berbasis komputer memiliki 3 unsur, yaitu urut-urutan instruksional yang dapat disesuaikan, jawaban, respons atau pekerjaan dari siswa, umpan balik tepat yang disesuaikan.
Penggunaan komputer sebagai media pengajaran pada umumnya mengikuti proses instruksional sebagai berikut:
a. Merencanakan, mengatur dan mengorganisasikan, dan menjadwalkan pengajaran.
b. Mengevaluasi siswa (tes)
c. Mengumpulkan data mengenai siswa.
d. Melakukan analisis statistik mengenai data pembelajaran.
e. Membuat catatan perkembangan pembelajaran (kelompok atau perseorangan).
Dilihat dari situasi belajar, komputer digunakan untuk tujuan menyajikan pelajaran. Dalam hal ini, informasi atau pesan berupa konsep disajikan di layar komputer dengan teks, gambar, atau grafik. Pada saat yang tepat siswa diperkirakan telah membaca, menginterpretasi, dan menyerap konsep yang disajikan.
Menurut Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (2002: 137-138) ada beberapa keuntungan dalam mendayagunakan komputer dalam pembelajaran, yaitu: 1) membangkitkan motivasi kepada peserta didik dalam belajar, 2) warna, musik, dan grafis animasi dapat menambahkan kesan realisme, 3) menghasilkan penguatan yang tinggi, 4) kemampuan memori memungkinkan penampilan peserta didik yang telah lampau direkam dan dipakai dalam merencanakan langkah-langkah selanjutnya di kemudian hari, 5) berguna sekali untuk peserta didik yang lamban, 6) kemampuan daya rekamnya memungkinkan pengajaran individual bisa dilaksanakan, 7) rentang pengawasan guru diperlebar sejalan dengan banyaknya informasi yang disajikan dengan mudah yang diatur oleh guru, dan membantu pengawasan lebih dekat kepada kontak langsung dengan para peserta didik.
Komputer dapat digunakan sebagai alat mengajar utama untuk memberi penguatan belajar awal, merangsang dan memotivasi belajar, atau untuk berbagai jenis kemungkinan lainnya. Banyak manfaat yang diperoleh dari fleksibelitas komputer ini karena dapat memasukan video, audio, elemen-elemen grafis, bentuk-bentuk, proses, peran dan tanggung jawab lainnya.
Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan media berbasis komputer, guru perlu memahami tahap-tahap penggunaan media berbasis komputer. Sebelum memulai pembelajaran, guru harus mempersiapkan perlengkapan yang dibutuhkan dan juga mempersiapkan siswa agar dapat mengikuti, mencatat, menganalisis, mengkritik, dan lain-lain dari informasi yang akan didapat dari media yang digunakan. Dan kegiatan pembelajarannya meliputi 3 tahap, yaitu:

a. Tahap Pengumpulan Informasi
Pada tahap pengumpulan informasi, siswa akan mengumpulkan sejumlah informasi dari software matematika dengan mengikuti petunjuk penggunaan yang telah disiapkan oleh guru. Pada tahap ini, siswa bekerja secara individual.
b. Tahap Lanjutan (diskusi)
Tahap lanjutan atau tahap diskusi adalah tahap pembelajaran untuk mengolah informasi yang didapat dari tahap pengumpulan informasi dengan kegiatan belajar diskusi yang ditujukan untuk mempertajam pemahaman siswa.
c. Tahap aplikasi (pemberian tugas)
Pemberian tugas ditujukan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Pemecahan masalah ini berdasarkan informasi yang diperoleh dari tahap pengumpulan informasi dan pengolahan informasi pada tahap lanjutan (diskusi).

3. Implikasi Penggunaan Media Berbasis Komputer dalam Pembelajaran Geometri dengan Pendekatan Konstruktivisme
Dari uraian mengenai tahap-tahap pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme dan tahap-tahap pembelajaran menggunakan media berbasis komputer, penulis mendefinisikan tahap-tahap pembelajaran matematika berdasarkan pendekatan konstruktivisme dengan menggunakan media berbasis komputer adalah:
a. tahap persepsi (mengungkap konsepsi awal dan membangkitkan motivasi belajar siswa). Pada tahap ini siswa diberikan foto-foto tentang bangun datar yang dijumpai siswa dalam kehidupan sehari-hari dan meminta siswa memberikan nama dari bangun-bangun datar tersebut. Siswa diminta untuk memberikan persamaan dan perbedaan dari bangun-bangun datar tersebut. Pengetahuan awal siswa akan dikaitkan dengan konsep baru yang akan mereka pelajari. Pembelajaran pada tahap ini sesuai dengan teori belajar Ausubel yang menyatakan bahwa belajar bermakna timbul jika siswa mencoba menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang dimilikinya.
b. tahap eksplorasi, guru menggunakan media berbasis komputer. Siswa diberi kesempatan untuk menyelidiki dan menemukan konsep dengan menggunakan software matematika yang telah dirancang guru. Dalam menemukan konsep baru siswa dibantu dengan LKS yang telah diberikan guru. Setelah mengikuti petunjuk penggunaan komputer, siswa melengkapi LKS sebagai suatu kesimpulan yang dapat mereka tarik. Siswa terlibat aktif dalam menemukan konsep baru dengan mengamati sisi, sudut, diagonal, simetri lipat dan simetri putar dari bangun-bangun datar dan membuat hubungan sifat-sifat dari beberapa bangun datar, hal ini sejalan dengan pandangan Bruner bahwa siswa belajar melalui keterlibatan aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip dalam memecahkan masalah dan guru berfungsi sebagai motivator bagi siswa dalam mendapatkan pengalaman yang memungkinkan mereka menemukan dan memecahkan masalah.
c. tahap diskusi dan penjelasan konsep, siswa memikirkan penjelasan dan solusi yang didasarkan pada hasil observasi siswa, ditambah dengan penguatan guru. Pada tahap ini siswa mendiskusikan materi yang mereka dapat dari penggunaan komputer. Selanjutnya, siswa dapat membangun pemahaman baru tentang konsep yang sedang dipelajari. Pembelajaran pada tahap ini ssuai dengan teori konstruktivisme Piaget yang menyatakan pengetahuan dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. Sedangkan, akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru, sehingga informasi tersebut mempunyai tempat.
d. tahap pengembangan dan aplikasi konsep, untuk mendalami pemahaman konsep guru memberikan masalah-masalah yang akan digunakan siswa untuk mengaplikasikan konsep yang telah mereka miliki.

III. Penutup
Metode yang terbaik dikemukakan oleh Horsley yaitu pembelajaran matematika dengan metode pendekatan konstruktivisme meliputi empat tahap: (1) tahap persepsi (mengungkap konsepsi awal dan membangkitkan motivasi belajar siswa), (2) tahap eksplorasi, (3) tahap diskusi dan penjelasan konsep, dan (4) tahap pengembangan dan aplikasi konsep.
Hal-hal yang harus dilakukan oleh guru agar dapat mengajarkan matematika dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme adalah memberikan kesempetan kepada siswa untuk menyelesaikan masalah matematika dengan caranya sendiri dengan kemampuan yang dimiliki dalam pikirannya, artinya siswa diberi kesempatan melakukan refleksi, interpretasi dan mencari strateginya yang sesuai. Rekonstruksi terjadi bila siswa dalam aktivitasnya melakukan refleksi, interprestasi, dan internalisasi, rekonstruksi ini dimungkinkan terjadi dengan probabilitas yang lebih besar melalui diskusi, baik dalam kelompok kecil maupun diskusi kelas atau berbagai bentuk interaksi dan negosiasi.
Untuk membantu guru memfasilitasi situasi belajar yang dapat merangsang siswa mengkonstruksi pengetahuannya adalah dengan menggunakan media pembelajaran, salah satunya media pembelajaran berbasis komputer. Penggunaan media berbasis komputer dalam pembelajaran matematika dengan pendekatan konstruktivisme diharapkan siswa dapat berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta mampu bekerjasama.

Daftar Pustaka
Aisyah, Nyimas. 2007. Pengembangan Pembelajaran Matematika SD. Dirjen Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional
Arfan, Rahma. 2009. Media Pembelajaran Berbasis Komputer diakses dari http://dirahma.blogspot.com/2009/05/media-pembelajaran-berbasis-komputer.html pada tanggal 20 Mei 2009
Dahar, R W. 1989. Teori–teori Belajar. Jakarta: Erlangga.
Hanbury, L. 1996. Contructivism So What? In J. Wakefield and L. Velardi (Eds).Calaberating Mathematics Learning (pp.3-8). Melbourne. The Mathematical Assciation of Victoria.
Horsley, S.L.. 1990. Elementary School Science for the 90S. Virginia: Association Supervision and Curriculum Development.
Hudojo, Herman. 2005. Kapita Selekta Pembelajaran Matematika. Malang: Universitas Negeri Malang
Oktanisa, Silvana. 2007. Mengajar Matematika dengan Menggunakan Metode Pendekatan Konstruktivisme diakses dari http://guru-beasiswa.blogspot.com/2007/12/mengajar-matematika-dengan-menggunakan.html
Russefendi. 1988. Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito
Sadiman. A. S. 2006. Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sudjana, Nana & Rivai, Ahmad. 2002. Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algensindo
Suparno, Paul. 1997. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius
Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana
Winkel, W. S. 1999. Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta

Dalam pengujian ANAVA, kita dapat menarik kesimpulan apakah menerima atau menolak hipotesis. Jika kita menolak hipotesis, artinya bahwa dari variabel-variabel yang kita uji, terdapat perbedaan yang signifikan. Misalnya jika kita menguji perbedaan 4 metode mengajar terhadap prestasi siswa, kita bisa menyimpulkan bahwa ada perbedaan dari keempat metode tersebut. Akan tetapi, kita tidak mengetahui, metode manakah yang berbeda dari keempatnya. Secara statistik, kita tidak bisa mengatakan bahwa yang terbaik hanya dengan memperhatikan rata-rata dari setiap metode tersebut.
Untuk menjawab pertanyaan metode manakah yang berbeda, maka statistika memiliki teknik uji lanjut untuk mengetahui, variabel manakah yang memiliki perbedaan yang signifikan. Ada banyak metode yang ada. Di SPSS ada banyak teknik uji lanjut. Di antaranya jika asumsi homogenitas varian terpenuhi, maka teknik yang bisa dipergunakan adalah: LSD (Least Square Differences), Tukey, Bonferoni, Duncan, Scheffe dan lain sebagainya. Dan jika tidak ada asumsi homogenitas varian, maka teknik yang bisa dipergunakan adalah tamhane T2, dunnett’s T3, games-howell dan dunnett’s C.
Jika jumlah n setiap variabel sama, maka teknik yang bisa digunakan adalah LSD, Student Newman-Keuls (SNK) dan Tukey. Akan tetapi jika jumlah n tiap variabel tidak sama, maka kita bisa menggunakan teknik Scheffe.

Uji Tukey
Syarat
Ukuran kelompok semuanya harus sama (atau direratakan secara rerata harmonik)
Jenis Pengujian
Ada dua jenis pengujian, melalui Jumlah pada kelompok, T dan Rerata pada kelompok, X

Notasi yang digunakan
k : banyaknya kelompok
n : ukuran kelompok
n = n – k
Ti, Tj : jumlah pada kelompok
Xi, Xj : rerata pada kelompok
a : taraf signifikansi
q(a)(k,n) : pada tabel Tukey
Kriteria pengujian
Jenis jumlah pada kelompok

Berbeda jika |Ti – Tj| ³ BT
Jenis rerata kelompok

Berbeda jika |Xi – Xj| ³ BR

Contoh:
Sejenis bibit tanaman secara acak dibagi ke dalam 5 kelompok. Mereka diberi jumlah pupuk yang berbeda. X1 tanpa pupuk, X2 sedikit, X3 sedang, X4 agak cukup, dan X5 cukup. Kesuburan pertumbuhan mereka diuji dengan taraf signifikansi 0,05. Kesuburan pertumbuhan pada sampel adalah
X1 X2 X3 X4 X5
10 11 16 23 26
9 9 16 21 24
9 7 14 20 22
6 7 13 20 20
6 7 12 17 20
Komparasi ganda Tukey diterapkan pada soal di atas dengan taraf signifikansi 0,05. Dengan menggunakan perhitungan anova didapat:

VARD = 4,28 n = 25 k = 5
T1 = 40 X1 = 40 / 5 = 8,0
T2 = 41 X2 = 41 / 5 = 8,2
T3 = 71 X3 = 71 / 5 = 14,2
T4 = 101 X4 = 101 / 5 = 20,2
T5 = 112 X5 = 112 / 5 = 22,4 a = 0,05
Pengujian dilakukan terhadap selisih pasangan rerata
m1 – m2 m2 – m3 m3 – m4 m4 – m5
m1 – m3 m2 – m4 m3 – m5
m1 – m4 m2 – m5
m1 – m5
Kriteria pengujian
Dari tabel Tukey q(0,05)(5,20) = 4,23 sehingga

Pengujian melalui jumlah pada kelompok
Kriteria 43,75
(a) |T1 – T2| = 1 Tidak signifikan
(b) |T1 – T3| = 31 Tidak signifikan
(c) |T1 – T4| = 71 Signifikan
(d) |T1 – T5| = 72 Signifikan
(e) |T2 – T3| = 30 Tidak signifikan
(f) |T2 – T4| = 60 Signifikan
(g) |T2 – T5| = 71 Signifikan
(h) |T3 – T4| = 30 Tidak signifikan
(i) |T3 – T5| = 41 Tidak signifikan
(j) |T4 – T5| = 11 Tidak signifikan

Pengujian melalui rerata pada kelompok
Kriteria 1,75
(a) |X1 – X2| = 0,2 Tidak signifikan
(b) |X1 – X3| = 6,2 Signifikan
(c) |X1 – X4| = 12,2 Signifikan
(d) |X1 – X5| = 14,4 Signifikan
(e) |X2 – X3| = 6,0 Signifikan
(f) |X2 – X4| = 12,0 Signifikan
(g) |X2 – X5| = 14,2 Signifikan
(h) |X3 – X4| = 6,0 Signifikan
(i) |X3 – X5| = 8,2 Signifikan
(j) |X4 – X5| = 2,2 Signifikan

Uji Sceffe
Uji Scheffe dilakukan melalui distribusi probabilitas pensampelan F-Fisher Snedecor
Statistik uji

natas = k – 1
nbawah = n – k
k = banyaknya kelompok
ni, nj = ukuran kelompok
n = jumlah semua ukuran kelompok
X ̅_i,X ̅_j = rerata kelompok pada sampel
Keputusan
Pada taraf signifikansi a, rerata kelompok berbeda jika F > F(a)(k-1)(n-k)
Contoh:
Sejenis bibit tanaman secara acak dibagi ke dalam 5 kelompok. Mereka diberi jumlah pupuk yang berbeda. X1 tanpa pupuk, X2 sedikit, X3 sedang, X4 agak cukup, dan X5 cukup. Kesuburan pertumbuhan mereka diuji dengan taraf signifikansi 0,05. Kesuburan pertumbuhan pada sampel adalah
X1 X2 X3 X4 X5
10 11 16 23 26
9 9 16 21 24
9 7 14 20 22
6 7 13 20 20
6 7 12 17 20
Komparasi ganda Scheffe diterapkan pada contoh di atas dengan taraf signifikansi 0,05
VARD = 4,28 n =25 k = 5
X1 = 40 / 5 = 8,0
X2 = 41 / 5 = 8,2
X3 = 71 / 5 = 14,2
X4 = 101 / 5 = 20,2
X5 = 112 / 5 = 22,4 a = 0,05
Pengujian dilakukan terhadap selisih pasangan rerata
m1 – m2 m2 – m3 m3 – m4 m4 – m5
m1 – m3 m2 – m4 m3 – m5
m1 – m4 m2 – m5
m1 – m5
Statistik uji
Karena n1 = n2 = n3 = n4 = n5 = 5, maka untuk semua pasang selisih rerata, terdapat kesamaan pada

Kriteria pengujian
Nilai kritis F(0,95)(4)(20) = 2,87
Pengujian
(a) m1 – m2
X1 – X2 = 8,0 – 8,2 = – 0,2
F = (0,04) / (6,85) = 0,006
Tidak signifikan
(b) m1 – m3
X1 – X3 = 8,0 – 14,2 = – 6,2
F= (38,44) / (6,85) = 5,61
Signifikan
(c) m1 – m4
X1 – X4 = 8,0 – 20,2 = – 12,2
F = (148,84) / (6,85) = 21,73
Signifikan
(d) m1 – m5
X1 – X5 = 8,0 – 22,4 = – 14,4
F = (207,36) / (6,85) = 30,27
Signifikan
(e) m2 – m3
X2 – X3 = 8,2 – 14,2 = – 6,0
F = (36,00) / (6,85) = 5,26
Signifikan
(f) m2 – m4
X2 – X4 = 8,2 – 20,2 = – 12,0
F = (144,00) / (6,85) = 21,02
Signifikan
(g) m2 – m5
X2 – X5 = 8,2 – 22,4 = – 14,2
F = (201,64) / (6,85) = 29,44
Signifikan
(h) m3 – m4
X3 – X4 = 14,2 – 20,2 = – 6,0
F = (36,00) / (6,85) = 5,26
Signifikan
(i) m3 – m5
X3 – X5 = 14,2 – 22,4 = – 8,2
F = (67,24) / (6,85) = 9,82
Signifikan
(j) m4 – m5
X4 – X5 = 20,2 – 22,4 = – 2,2
F= (4,84) / (6,85) = 0,71
Tidak signifikan

1. TEORI HIERARKI BELAJAR DARI ROBERT M. GAGNE

Menurut teori Gagne, cara untuk menentukan prasyarat untuk suatu tujuan belajar adalah melakukan hierarki belajar. Sebuah hierarki belajar dibangun dengan bekerja mundur dari tujuan pembelajaran akhir. Dan kemampuan akhir yang dimiliki oleh siswa setelah belajar disebut kapabilitas. Gagne membagi membagi hasil belajar menjadi lima kategori kapabilitas:
a. informasi verbal, merupakan kemampuan untuk mengkomunikasikan secara lisan pengetahuannya tentang fakta-fakta yang diperoleh secara lisan, membaca buku dan sebagainya.
b. keterampilan intelektual, merupakan kemampuan untuk dapat membedakan, menguasai konsep, aturan, dan memecahkan masalah. Kemampuan tersebut diperoleh melalui belajar. Kapabilitas keterampilan intelektual menurut Gagne dikelompokkan dalam 8 tipe belajar, yaitu
• belajar isyarat, adalah belajar yang tanpa kesengajaan, timbul akibat suatu stimulus sehingga menimbulkan suatu respon emosional pada individu yang bersangkutan.
• belajar stimulus respon, adalah belajar untuk merespon suatu isyarat
• belajar rangkaian gerak, merupakan perbuatan jasmaniah terurut dari dua kegiatan atau lebih stimulus respon
• belajar rangkaian verbal, merupakan perbuatan lisan terurut dari dua kegiatan atau lebih stimulus respon
• belajar memperbedakan, adalah belajar membedakan hubungan stimulus respon sehingga bisa memahami bermacam-macam objek fisik dan konsep dalam merespon lingkungannya
• belajar pembentukan konsep, adalah belajar mengenal sifat bersama dari benda konkret
• belajar pembentukan aturan, adalah belajar menghubungkan dua konsep atau lebih untuk mendapatkan suatu aturan
• dan belajar pemecahan masalah, belajar membuat formulasi penyelesaian masalah dari aturan yang telah dipelajari
Tipe belajar tersebut terurut kesukarannya dari yang paling sederhana sampai kepada yang paling kompleks.
c. Sikap, adalah kecenderungan untuk merespon secara tepat terhadap stimulus atas dasar penilaian terhadap stimulus tersebut
d. Keterampilan motorik, adalah kemampuan yang dapat dilihat dari segi kecepatan, ketepatan, dan kelancaran gerakan otot-otot serta anggota badan.

2. TEORI BELAJAR BERMAKNA DARI DAVID P. AUSEBEL
Belajar bermakna merupakan suatu proses yang dikaitkan dengan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Faktor yang paling penting yang mempengaruhi belajar adalah apa yang telah diketahui siswa. Agar terjadi belajar yang bermakna, konsep baru harus dikaitkan dengan konsep yang sudah ada dalam struktur kognitif siswa.
Pengetahuan tidak dapat ditularkan oleh guru, melainkan siswa membangun pengetahuan mereka ketika mencoba memahami pengalaman mereka didasarkan pada pengetahuan yang telah ada. Selain itu, sumber belajar harus otentik dan dapat ditemukan dalam situasi dunia nyata.
Menurut Ausubel belajar dapat diklasifikasikan kedalam dua dimensi. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran itu disajikan kepada siswa melalui penerimaan atau penemuan. Selanjutnya dimensi kedua menyangkut bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada. Jika siswa hanya mencoba menghafalkan informasi baru itu tanpa menghubungkan dengan struktur kognitifnya, maka terjadilah belajar dengan hafalan. Sebaliknya jika siswa menghubungkan atau mengaitkan informasi baru itu dengan struktur kognitifnya maka yang terjadi adalah belajar bermakna.
Kondisi-kondisi belajar bermakna sebagai berikut :
1. Menjelaskan hubungan atau relevansi bahan-bahan baru dengan bahan-bahan lama.
2. Lebih dahulu diberikan ide yang paling umum dan kemudian hal- hal yang lebih terperinci.
3. Menunjukkan persamaan dan perbedaan antara bahan baru dengan bahan lama.
4. Mengusahakan agar ide yang telah ada dikuasai sepenuhnya sebelum ide yang baru disajikan.
Selanjutnya dikatakan suatu pembelajaran dikatakan bermakna jika memenuhi prasyarat, yaitu:
a. Materi yang akan dipelajari bermakna secara potensial. Materi dikatakan bermakna secara potensial jika materi itu mempunyai kebermaknaan secara logis dan gagasan yang relevan harus terdapat dalam struktur kognitif siswa.
b. Anak yang akan belajar harus bertujuan melaksanakan belajar bermakna sehingga anak tersebut mempunyai kesiapan dan niat dalam belajar bermakna.
Langkah – langkah belajar bermakna Ausubel adalah :
1. Pengatur awal (advance organizer)
Pengatur awal dapat digunakan untuk membantu mengaitkan konsep yang lama dengan konsep yang baru yang lebih tinggi maknanya.
2. Diferensiasi Progregsif
Dalam pembelajaran bermakna perlu ada pengembangan dan kolaborasi konsep- konsep. Caranya unsure yang inklusif diperkenalkan terlebih dahulu kemudian baru lebih mendetail.
Menurut Ausebel, ada tiga kebaikan dari belajar bermakna yaitu :
a. Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama dapat diingat,
b. Informasi yang dipelajari secara bermakna memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi pelajaran yang mirip
c. Informasi yang dipelajari secara bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah terjadi lupa.

Referensi:
Aisyah, Nyimas dkk. 2007. Pengembangan Pembelajaran Matematika SD. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional
NN. 1999. Desain Instruksional Teori Gagne diakses dari http://inst.usu.edu/~mimi/courses/6260/gagne.html&anno=2 tanggal 27 Februari 2010
NN. 2009. Teori Belajar Bermakna Ausebel diakses dari http://id.shvoong.com/exact-sciences/1959737-teori-belajar-ausubel/ tanggal 27 Februari 2010
Trianto, 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana

Edward L. Thorndike (1874-1949) adalah salah seorang penganut paham psikologi tingkah-laku. Berdasarkan hasil percobaannya di laboratorium yang menggunakan beberapa jenis hewan, ia mengemukakan suatu teori belajar yang dikenal dengan teori “pengaitan” (connectionism). Teori tersebut menyatakan bahwa belajar pada hewan dan manusia pada dasarnya berlangsung menurut prinsip yang sama yaitu, belajar merupakan peristiwa terbentuknya ikatan (asosiasi) antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R) yang diberikan atas stimulus tersebut. Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat, sedangkan respon adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. Asosiasi yang demikian itu disebut ”bond” atau ”connection”. Dalam hal ini, akan akan menjadi lebih kuat atau lebih lemah dalam terbentuknya atau hilangnya kebiasaan-kebiasaan. Oleh karena itu, teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi. Dengan adanya pandangan-pandangan Thorndike yang memberikan sumbangan cukup besar di dunia pendidikan tersebut, maka ia dinobatkan sebagai salah satu tokoh pelopor dalam psikologi pendidikan.
Selain itu, bentuk belajar yang paling khas baik pada hewan maupun pada manusia menurutnya adalah “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. Eksperimennya yang terkenal adalah dengan menggunakan kucing yang masih muda dengan kebiasaan-kebiasaan yang masih belum kaku, dibiarkan lapar; kemudian dimasukkan ke dalam kurungan yang disebut ”problem box”. Dimana konstruksi pintu kurungan tersebut dibuat sedemikian rupa, sehingga kalau kucing menyentuh tombol tertentu pintu kurungan akan terbuka dan kucing dapat keluar dan mencapai makanan (daging) yang ditempatkan di luar kurungan itu sebagai hadiah atau daya penarik bagi si kucing yang lapar itu. Pada usaha (trial) yang pertama, kucing itu melakukan bermacam-macam gerakan yang kurang relevan bagi pemecahan problemnya, seperti mencakar, menubruk dan sebagainya, sampai kemudian menyentuh tombol dan pintu terbuka. Namun waktu yang dibutuhkan dalam usaha yang pertama ini adalah lama. Percobaan yang sama seperti itu dilakukan secara berulang-ulang; pada usaha-usaha (trial) berikutnya dan ternyata waktu yang dibutuhkan untuk memecahkan problem itu makin singkat. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya kucing itu sebenarnya tidak mengerti cara membebaskan diri dari kurungan tersebut, tetapi dia belajar mempertahankan respon-respon yang benar dan menghilangkan atau meninggalkan respon-respon yang salah. Dengan demikian diketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respons perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui usaha–usaha atau percobaan-percobaan (trials) dan kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu.
Percobaan tersebut menghasilkan teori “trial and error” atau “selecting and conecting”, yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba dan membuat salah. Dalam melaksanakan coba-coba ini, kucing tersebut cenderung untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai hasil. Setiap respons menimbulkan stimulus yang baru, selanjutnya stimulus baru ini akan menimbulkan respons lagi, demikian selanjutnya.
Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut:
(1) Hukum kesiapan (law of readiness), hukum ini pada intinya menyatakan bahwa belajar akan berhasil apabila peserta didik benar-benar telah siap untuk belajar. Dengan perkataan lain, apabila suatu materi pelajaran diajarkan kepada anak yang belum siap untuk mempelajari materi tersebut maka tidak akan ada hasilnya.
(2) Hukum latihan (law of exercise), yaitu apabila ikatan antara stimulus dan respon lebih sering terjadi, maka ikatan itu akan terbentuk semakin kuat. Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan—yang telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon—dilatih (digunakan), maka ikatan tersebut akan semakin kuat. Jadi, hukum ini menunjukkan prinsip utama belajar adalah pengulangan. Semakin sering suatu materi pelajaran diulangi maka materi pelajaran tersebut akan semakin kuat tersimpan dalam ingatan (memori).
(3) Hukum akibat (law of effect), yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. Hal ini berarti (idealnya), jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya, maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat. Konkretnya adalah sebagai berikut: Misalkan seorang siswa diminta untuk menyelesaikan suatu soal matematika, setelah ia kerjakan, ternyata jawabannya benar, maka ia merasa senang/puas dan akibatnya antara soal dan jawabannya yang benar itu akan kuat tersimpan dalam ingatannya. Hukum ini dapat juga diartikan, suatu tindakan yang diikuti akibat yang menyenangkan, maka tindakan tersebut cenderung akan diulangi pada waktu yang lain. Sebaliknya, suatu tindakan yang diikuti akibat yang tidak menyenangkan, maka tindakan tersebut cenderung akan tidak diulangi pada waktu yang lain. Dalam hal ini, tampak bahwa hukum akibat tersebut ada hubungannya dengan pengaruh ganjaran dan hukuman. Ganjaran yang diberikan guru kepada pekerjaan siswa (misalnya pujian guru terhadap siswa yang dapat menyelesaikan soal matematika dengan baik) menyebabkan peserta didik ingin terus melakukan kegiatan serupa. Sedangkan hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa (misalnya celaan guru terhadap hasil pekerjaan matematika siswa) menyebakan siswa tidak lagi mengulangi kesalahannya. Namun perlu diingat, sering terjadi, bahwa hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa justru membuat siswa menjadi malas belajar dan bahkan membenci pelajaran matematika.
Selain hukum-hukum di atas, Thorndike juga mengemukakan konsep transfer belajar yang disebutnya transfer of training. Konsep ini maksudnya adalah penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki siswa untuk menyelesaikan suatu masalah baru, karena di dalam setiap masalah, ada unsur-unsur dalam masalah itu yang identik dengan unsur-unsur pengetahuan yang telah dimiliki. Unsur-unsur yang identik itu saling berasosiasi sehingga memungkinkan masalah yang dihadapi dapat diselesaikan. Unsur-unsur yang saling berasosiasi itu membentuk satu ikatan sehingga menggambarkan suatu kemampuan. Selanjutnya, setiap kemampuan harus dilatih secara efektif dan dikaitkan dengan kemampuan lain. Misalnya, kemapuan melakukan operasi aritmetik (penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian) yang telah dimiliki siswa, haruslah dilatih terus dengan mengerjakan soal-soal yang berikaitan dengan operasi aritmetik. Dengan demikian kemampuan mengerjakan operasi aritmetika tersebut menjadi mantap dalam pikiran siswa. Jadi, dapat disimpulkan bahwa transfer belajar dapat tercapai dengan sering melakukan latihan.

Referensi
NN. 2009. Teori Psikologi Belajar dan Aplikasinya dalam Pendidikan. Diakses dari http://www.unikajaya.co.cc/2009/11/teori-psikologi-belajar-dan-aplikasinya.html tanggal 19 Februari 2010
Subhan. 2010. Teori Pengaitan dari Edward L. Thorndike. Diakses dari http://www.edukasi-online.info/index.php?option=com_content&view=article&id=49:a-teori-pengaitan-dari-edward-lthorndike&catid=35:pendidikan&Itemid=54 tanggal 19 Februari 2010

KEKERASAN DALAM PENDIDIKAN

PENDAHULUAN
Selain tingginya angka buta huruf, putus sekolah, minimnya pembiayaan, dan rendahnya kualitas pendidikan sehingga kesulitan mencapai target MDG’s (Millenium Development Goal’s) dan EFA (Education for All), kekerasan dalam pendidikan menjadi problem terselubung yang bila tidak diselesaikan akan menjadi masalah serius untuk pendidikan Indonesia. Kekerasan dalam pendidikan bagaikan puncak gunung es atau dengan kata lain kekerasan dalam pendidikan merupakan masalah yang tidak pernah tersentuh.
Pendidikan dan pengajaran memang tidak identik dengan kekerasan, baik di masa yang lalu apalagi sekarang ini. Tapi kekerasan sering kali dihubung-hubungkan dengan kedisiplinan dan penerapannya dalam dunia pendidikan. Istilah “tegas” dalam membina sikap disiplin pada anak didik, sudah lazim digantikan dengan kata “keras”. Hal ini kemudian ditunjang dengan penggunaan kekerasan dalam membina sikap disiplin di dunia militer, khususnya pendidikan kemiliteran. Ketika kemudian cara-cara pendidikan kemiliteran itu diadopsi oleh dunia pendidikan sipil, maka cara “keras” ini – istilah sekarang adalah kekerasan – juga ikut diambil alih.
Kekerasan-kekerasan yang dilakukan oleh guru kepada siswa seperti dilempar penghapus dan penggaris, dijemur di lapangan, dan dipukul. Di samping itu siswa juga mengalami kekerasan psikis dalam bentuk bentakan dan kata makian, seperti bodoh, goblok, kurus, ceking dan sebagainya.
Selain itu, kasus-kasus kekerasan pendidikan yang kita ketahui dari berita-berita yang menyiarkan pelecehan oleh guru terhadap sejumlah muridnya, kemudian dilanjutkan dengan tawuran dan konflik fisik yang melibatkan mahasiswa di beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Kasus yang paling populer adalah mahasiswa IPDN berebut merampas nyawa orang lain. Tidak puas dengan menganiaya juniornya hingga tewas, mereka malah lebih berani lagi melakukan penganiayaan di luar kampus. Akibatnya seorang pemuda harus meregang nyawa. Ironis memang, karena kasus-kasus itu justru dilakukan oleh mereka yang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin negeri ini dan dilatarbelakangi oleh alasan yang sepele.
Aksi tragis lain yang terjadi yaitu David Hartanto, mahasiswa Indonesia di Nanyang Technological University (NTU) Singapura menikam profesornya dan setelah itu diduga bunuh diri dengan meloncat dari lantai 4 di kampusnya, (Sumber: Pikiran Rakyat). Kisah sedih ini seolah menambah daftar panjang fenomena kekerasan di lingkungan pendidikan. Di tanah air, saat ini pun sedang marak pemberitaan kasus-kasus kekerasan yang melibatkan para pelajar. Beberapa waktu lalu beredar video yang menggambarkan pengeroyokan siswa SMP di ruang kelas, perkelahian antargeng siswa perempuan, bahkan ada pula video kekerasan perkelahian dua siswa perempuan disaksikan teman-temannya dan seorang gurunya menjadi wasit. Lantas, dari sejumlah kasus tersebut, timbul pertanyaan ada apa dengan dunia pendidikan Indonesia ?

PEMBAHASAN
Secara umum, kekerasan dapat diartikan sebagai suatu tindakan yang tidak menyenangkan atau merugikan orang lain, baik secara fisik maupun psikis. Kekerasan tidak hanya berbentuk eksploitasi fisik semata, tetapi justru kekerasan psikislah yang perlu diwaspadai karena akan menimbulkan efek traumatis yang cukup lama bagi si korban. Dewasa ini, tindakan kekerasan dalam pendidikan sering dikenal dengan istilah bullying.
Pada kenyataannya, praktik bullying ini dapat dilakukan oleh siapa saja, baik oleh teman sekelas, kakak kelas ke adik kelas, maupun bahkan seorang guru terhadap muridnya. Terlepas dari alasan apa yang melatarbelakangi tindakan tersebut dilakukan, tetap saja praktik bullying tidak bisa dibenarkan, terlebih lagi apabila terjadi di lingkungan sekolah.
Maraknya tayangan-tayangan kekerasan dalam dunia pendidikan, khususnya yang dilakukan oleh guru terhadap siswanya ataupun oleh siswa terhadap temannya, seharusnya mampu membuka atau menggugah hati kita sebagai seorang pendidik, bahwa tidak tertutup kemungkinan praktik bullying tersebut terjadi pula di lingkungan sekolah kita masing-masing.
Kekerasan dan pelecehan yang terjadi dalam dunia pendidikan di Indonesia akhir-akhir ini, bukanlah sesuatu yang muncul dengan tiba-tiba. Namun, semua itu telah tertanam kuat sejak dulu sebelum kemudian akhirnya meledak. Sebagai contoh, masyarakat yang pernah mengenyam dunia pendidikan tentu masih ingat benar dengan istilah MOS (Masa Orientasi Siswa) atau OSPEK (Orientasi Pengenalan Kampus) dengan berbagai nama lainnya. Kedua kegiatan tersebut senantiasa dilakukan setiap tahun untuk menyambut siswa dan mahasiswa baru. Tujuan awalnya adalah untuk memberikan pembekalan, baik materi maupun pengenalan lingkungan sekolah atau kampus kepada siswa maupun mahasiswa baru. Hal ini dianggap penting untuk membantu proses belajar mengajar sebagai kegiatan utama. Sayang, dalam pelaksaannya kedua kegiatan ini justru mengalami penyimpangan tujuan.
MOS dan OSPEK seringkali dijadikan ajang para senior untuk menunjukkan kekuasaan dan senioritasnya. Dalam kegiatan ini, tak jarang mereka melakukan tindakan kekerasan dan pelecehan pada junior. Hukuman seperti push up, lari keliling lapangan, atau di jemur di bawah terik matahari merupakan hal yang biasa. Ditambah lagi dengan bentakan para senior yang kerapkali membuat kecut hati siswa atau mahasiswa baru. Semua itu dilakukan dengan dalih untuk melatih kekuatan fisik dan mental. Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, alasan sebenarnya hanyalah untuk bersenang-senang mengerjai junior dan balas dendam atas perlakukan senior terdahulu.
Maka, pada masa-masa awal tahun ajaran, tak jarang terdengar ungkapan “Aku jadi panitia ospek nih, lumayan bisa ngerjain anak baru, dapat baju kaos gratis lagi”. Tidak hanya sampai di situ, para senior juga mempermalukan juniornya dengan menyuruh membawa dan menggunakan dot bayi, mengikat rambut dengan pita warna-warni, memakai kaos kaki berlainan warna dan lain sebagainya. Semua atribut ini pada dasarnya tidak memiliki kaitan dengan tujuan awal di lakukannya MOS atau OSPEK, melainkan semata-mata sebagai alat untuk mengerjai junior, agar acara semakin meriah. Kedua kegiatan ini juga seringkali dirancang tanpa memperhatikan hal-hal penting yang mendukung aktivitas belajar, sehingga tidak dapat diandalkan untuk menjadi ‘acara pembuka’ yang baik dalam memulai aktivitas akademis.
Kekerasan dan pelecehan yang terkandung dalam kegiatan ini akan terus berulang setiap tahun apabila tidak segera dihentikan. Junior yang sekarang menjadi korban, akan mencari korban lain di tahun depan, terus dan akhirnya membentuk lingkaran setan yang tiada habisnya. Sangat patut disayangkan, kegiatan semacam ini justru telah menjadi tradisi dalam dunia pendidikan di Indonesia.
Tindakan kekerasan dan pelecehan dalam dunia pendidikan, disadari atau tidak, ibarat menanam bom waktu yang dapat meledak kapan saja. Generasi muda yang terbiasa dengan kekerasan dan tindakan pelecehan akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang memandang segala sesuatu dari sudut pandang kekerasan pula. Maka, bukan hal yang mustahil kalau mereka akan menerapkan kekerasan dalam perilaku keseharian, terutama ketika menyelesaikan masalah. Inilah yang akhir-akhir ini terjadi dalam dunia pendidikan di Indonesia. Tidak hanya pada kegiatan MOS dan OSPEK, dalam aktivitas belajar mengajar yang dilakukan oleh guru dan dosenpun harus menjadi perhatian.
Pelecehan sekecil apapun atau hukuman yang berlebihan turut andil menabur benih kekerasan dalam diri generasi muda. Karena itu, tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan harus sesegera mungkin di tiadakan, agar lingkaran setan yang menjadi bencana dunia pendidikan dapat segera terputus.
Kekerasan adalah tindakan yang tidak terpuji dan tentunya sangat bertentangan dengan berbagai landasan dalam pendidikan. Berikut paparan mengenai kekerasan bila ditinjau dari berbagai landasan pendidikan di Indonesia:
A. Tinjauan dari Landasan Hukum Pendidikan
Kekerasan dalam pendidikan sangat bertentangan dengan:
1. pasal 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, “fungsi pendidikan nasional untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
2. pasal 4 ayat 1 yang menyatakan bahwa pendidikan diselenggarakan secara demikratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukkan bangsa (UU Sisdiknas)
3. Tentang kekerasan fisik, pada pasal 80 UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dinyatakan sebagai berikut:
(1) Setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp 72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah).
(2) Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) luka berat, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
(3) Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) mati, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
(4) Pidana ditambah sepertiga dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) apabila yang melakukan penganiayaan tersebut orang tuanya.
Kemudian yang berkaitan dengan kekerasan seksual;
Pasal 81
(1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).
(2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku pula bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.
Pasal 82
“Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).”
(UU Perlindungan Anak)

Selanjutnya secara khusus, undang-undang ini bahkan mengamanatkan bahwa anak-anak wajib dilindungi dari tindak kekerasan yang dilakukan oleh siapapun, termasuk guru di sekolah.
Pasal 54
“Anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah atau teman-temannya di dalam sekolah yang bersangkutan, atau lembaga pendidikan lainnya.”
(UU Perlindungan Anak)
Jika melihat undang-undang tersebut, sesungguhnya sudah sangat nyata bahwa tindakan kekerasan terhadap anak merupakan tindakan kriminal yang pelakunya akan diproses secara hukum. Tindakan kekerasan dengan bungkus pendidikan juga dapat mengakibatkan pelaku dikenai tindak pidana, sebagaimana disebutkan dalam pasal 80 UU. No. 23 tahun 2002.
B. Tinjauan dari Landasan Psikologi Pendidikan
Tindakan kekerasan atau bullying dapat dibedakan menjadi kekerasan fisik dan psikis. Kekerasan fisik dapat diidentifikasi berupa tindakan pemukulan (menggunakan tangan atau alat), penamparan, dan tendangan. Dampaknya, tindakan tersebut dapat menimbulkan bekas luka atau memar pada tubuh, bahkan dalam kasus tertentu dapat mengakibatkan kecacatan permanen yang harus ditanggung seumur hidup oleh si korban.
Adapun kekerasan psikis antara lain berupa tindakan mengejek atau menghina, mengintimidasi, menunjukkan sikap atau ekspresi tidak senang, dan tindakan atau ucapan yang melukai perasaan orang lain.
Dampak kekerasan secara psikis dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman, takut, tegang, bahkan dapat menimbulkan efek traumatis yang cukup lama. Selain itu, karena tidak tampak secara fisik, penanggulangannya menjadi cukup sulit karena biasanya si korban enggan mengungkapkan atau menceritakannya.
Dampak lain yang timbul dari efek bullying ini adalah menjadi pendiam atau penyendiri, minder dan canggung dalam bergaul, tidak mau sekolah, stres atau tegang, sehingga tidak konsentrasi dalam belajar, dan dalam beberapa kasus yang lebih parah dapat mengakibatkan bunuh diri.
Ditinjau dari psikologi perkembangan, Havingrust dalam Pidarta (2007:199) menyatakan bahwa perkembangan psikologi pada masa anak-anak adalah membentuk sikap diri sendiri, bergaul secara rukun, membuat kebebasan diri, membentuk kata hati, moral dan nilai, dan mengembangkan sikap terhadap kelompok serta lembaga-lembaga sosial. Tentu saja perkembangan ini akan terhambat dengan adanya kekerasan dalam pendidikan.
Kekerasan yang dilakukan oleh guru sangat bertentangan dengan pendapat Freedman (Pidarta, 2007:220) yang menyatakan bahwa guru harus mampu membangkitkan kesan pertama yang positif dan tetap positif untuk hari-hari berikutnya. Sikap dan perilaku guru sangat penting artinya bagi kemauan dan semangat belajar anak-anak. Jadi, hukuman yang dilakukan oleh guru akan menjadi kesan negatif yang berdampak negatif pula dalam proses belajar anak.
Sekecil apapun dampak yang timbul terhadap praktek kekerasan dalam pendidikan, tetap saja hal ini adalah suatu kesalahan. Sekolah sepatutnya tempat bagi siswa untuk berkembang. Namun, di saat kekerasan terjadi di sekolah, sekolah justru mematikan perkembangan psikologi siswa.
C. Tinjauan dari Landasan Filsafat Pendidikan
Menurut Sekjen KPA, Arist Merdeka Sirait, pada tahun 2009 telah terjadi aksi bullying atau kekerasan di sekolah sebanyak 472 kasus. Angka ini meningkat dari tahun 2008, yang jumlahnya sebanyak 362 kasus (http://www.lautanindonesia.com/forum/berita-(news)/kekerasan-smun-jakarta-970-82-34-dll)/).
Begitu banyak kekerasan yang terjadi di sekolah merupakan hal yang menyedihkan bagi dunia pendidikan. Kekerasan seharusnya tidak terjadi di negara kita yang berfalsafah Pancasila, apalagi ini terjadi dalam dunia pendidikan. Bangsa kita adalah bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang sesuai dengan sila kedua Pancasila. Segala bentuk kekerasan tentunya melanggar nilai-nilai kemanusiaan khususnya hak asasi manusia. Dan pelanggaran hakasasi manusia akan mendapatkan konsekuensi hukum sesuai dengan perundang-undangan yang belaku di negara kita.
D. Tinjauan dari Landasan Sosial Budaya
Pada landasan sosial budaya, pendidikan diarahkan untuk mengembangkan hubungan antarindividu, individu dan kelompok dan antarkelompok serta mengembangkan nilai-nilai budaya Indonesia. Namun, hal tersebut hanya menjadi wacana saat kekerasan terjadi dalam pendidikan. Siswa tidak dapat mengembangkan hubungan yang baik antarindividu, individu dan kelompok dan antarkelompok ketika “budaya senioritas” masih melekat di sekolah. Di sisi lain, terkikisnya budaya bangsa yang dikenal dunia dengan sopan santunnya akibat maraknya tindak kekerasan khususnya dalam dunia pendidikan.

SOLUSI MASALAH
Ada 7 hal yang harus dipahami dan kemudian diterapkan oleh pendidik untuk memperoleh kepercayaan anak didik agar mencapai maksud dari pendidikan itu, tanpa harus menggunakan kekerasan.
1. Tindakan alternatif
Cara pendidikan tanpa kekerasan digambarkan sebagai sebuah cara ketiga atau alternatif ketiga, setelah tindakan menyalahkan dan aksi kekerasan karena hal itu. Seorang pendidik yang melihat kesalahan seorang siswa, mempunyai tiga pilihan setelah itu, apakah dia akan menyalahkannya, menggunakan kekerasan untuk memaksa siswa memperbaiki kesalahan itu atau menggunakan cara ketiga yang tanpa kekerasan.
Menahan diri untuk tidak menyalahkan tentu bukan perkara mudah bagi orang dewasa apabila melihat sebuah kesalahan dilakukan oleh anak di depan matanya. Tapi perlu diingat bahwa sebuah tudingan bagaimanapun akan berbuah balasan dari anak, karena secara insting dia akan mempertahankan dirinya. Reaksi atas sikap anak yang membela diri inilah yang ditakutkan akan berbuah kekerasan dari pendidik terhadap anak didik.
2. Keakraban penuh keterbukaan
Keakraban maksudnya berbagi dengan orang lain dengan tidak membeda-bedakan anak-anak didik, dan terbuka adalah tidak menutup-nutupi hal apa pun atau mencoba mengambil keuntungan dari hal-hal yang tidak diketahui siswa. Sebuah keakraban yang penuh keterbukaan hanya bisa terjalin apabila adalah rasa persaudaraan kemanusiaan antara pihak pendidik dan siswa.
Di dalam keakraban ada kasih sayang, keramahan, sopan-santun, saling menghargai dan menghormati. Sedang keterbukaan mengandung unsur kejujuran, kerelaan dan menerima apa adanya.
Keakraban yang terbuka ini ibarat pintu bagi masuknya sebuah kepercayaan. Ketika anak didik sudah merasakan keakraban yang terbuka dari gurunya, maka dia dengan senang akan mendengarkan apa pun yang disampaikan oleh sang guru.
3. Komunikasi yang jujur
Penipuan adalah sesuatu yang sulit dipisahkan dari kekerasan, disebabkan kurangnya rasa hormat kepada orang lain atau takut terhadap kenyataan. Tindakan dengan kasih sayang didasarkan pada ukurannya dalam kebenarannya setiap orang, yang tidak bisa memisahkan dirinya dari kebenaran dan kenyataan.
Jadi, untuk menjadi benar kepada diri sendiri, kita juga harus benar terhadap orang lain. Sampaikan kepada anak didik kebenarannya; arahkan kemarahan kita terhadap kesalahannya, bukan kepada orangnya. Temukan solusi dalam konflik dan kesalahpahaman, dan itu tidak bisa dibangun apabila kita menggunakan kebohongan dan penipuan.
4. Hormati Kebebasan dan Persamaan
Di dalam pendidikan tanpa kekerasan ini, kita semuanya bebas dan setara, setiap orang mendengarkan suara nurani sendiri dan saling berbagi perhatian. Lalu kemudian dengan bebas diputuskan, berdasarkan pada semua pertimbangan individu-individu, bagaimana keinginan bersama ingin diwujudkan. Dengan demikian kita harus mengenali dengan jelas kebebasan memilih dan hak yang sama setiap orang untuk mengambil bagian dalam kegiatan itu.
Yang lebih penting lagi adalah kita menyadari persamaan semua manusia dan menghormati kebebasan anak didik sama seperti kita menghendaki kebebasan kita sendiri dihormati. Tindakan tanpa kekerasan bukanlah bentuk usaha untuk mengendalikan yang lain atau penggunaan paksaan terhadap mereka. Jika kita mencintai anak didik, kita menghormati otonomi mereka untuk membuat keputusan-keputusan mereka sendiri. Kita pasti dapat berkomunikasi dengan mereka, dan kita bahkan dapat menghadapi mereka dengan kehadiran kita untuk memaksa mereka tanpa kekerasan untuk membuat sebuah pilihan, jika kita yakin mereka telah melakukan kesalahan. Perbedaan yang penting adalah kita tidak memaksa mereka secara fisik atau dengan kasar untuk mencapai apa yang kita inginkan.
5. Rasa kasih yang berani
Bertentangan dengan kepercayaan umum, pendidikan tanpa kekerasan bukan sebuah metoda pasif dan lemah, dan itu pasti bukan untuk para penakut. Tindakan tanpa kekerasan lebih banyak membutuhkan keberanian dibanding perkelahian dengan kekerasan seperti dalam peperangan, meski tampaknya itu semacam keberanian. Karena jika kita melihat lebih jauh penggunaan senjata merupakan kompensasi dari rasa takut terhadap lawan. Dan tindakan kekerasan merupakan bukti adanya perasaan takut lawan lebih dulu melakukannya terhadap kita. Jadi melakukan tindakan tanpa kekerasan menunjukkan ketinggian martabat yang penuh keberanian.
Rasa kasihan adalah anugerah kepada hati kita. Rasa kasihan bisa digambarkan sebagai kasih yang tidak hanya berempati terhadap orang lain di dalam merasakan apa yang mereka alami, tetapi juga mempunyai keberanian dan kebijaksanaan untuk melakukan sesuatu terhadap hal itu. Di dalam rasa kasihan, kita tidak melampiaskan kemarahan dan rasa benci kepada anak didik yang melakukan kesalahan, namun dengan kemurahan hati dan kepedulian, kita memperbaikinya. Rasa kasihan datang dari rasa kesatuan dengan orang lain, memperluas hati kita sehingga kita bisa merasakan empati atas penderitaan orang lain dan menolong mereka.
6. Saling mempercayai secara penuh
Cara dengan kasih sayang didasarkan pada keyakinan bahwa jika kita bertindak dengan cara yang baik tidak akan pernah merugikan bagi siapapun, dan akan menghasilkan kebaikan juga. Alih-alih mengendalikan anak didik dengan ancaman dan kekuasaan kita, lebih baik menggunakan kecerdasan masing-masing pihak untuk memecahkan masalah dengan komunikasi yang baik dan negosiasi.
Untuk mempercayai anak didik secara penuh kita harus melepaskan kepercayaan itu dari kendali kita sendiri, dan membiarkan situasi memprosesnya. Tentu saja melepaskan kepercayaan tidak berarti kita mempercayai dengan membabi buta. Kita harus tetap memonitor apa yang terjadi dan memantau hasilnya secara terus menerus.
7. Ketekunan dan kesabaran
Dalam pendidikan tanpa kekerasan, kesabaran adalah kebaikan yang bersifat revolusioner. Kesabaran bukanlah sebuah pembiaran tanpa tindakan apa pun, tetapi peningkatan kualitas dari sebuah pertolongan yang bertahan pada tuntutannya, dan melanjutkannya dengan cara cerdas penuh ketenangan. Ketika kita terperangkap dalam situasi konflik, emosi kita sering sangat aktif dan bergolak. Kita harus hati-hati dengan reaksi tanpa pemikiran atas apa yang sedang kita lakukan dan konsekuensi-konsekuensi yang mungkin terjadi. Kesabaran memberikan kepada kita waktu untuk berpikir tentang tindakan-tindakan kita agar terhindar dari kekerasan dan bertindak efektif. Lebih baik menunggu dan kehilangan sebuah peluang kecil dibandingkan terburu-buru namun menemui sesuatu yang bodoh dan tidak dipersiapkan. Peluang baru pasti akan muncul kemudian, jika kita berusaha memecahkan persoalan, karena di lain waktu kita akan siap untuk bertindak dengan cara yang baik.
Tidak seperti cara militer yang cepat dan kasar, pendidikan tanpa kekerasan bersifat melambat dan dimulai dengan peringatan-peringatan untuk memberikan kesempatan kepada anak didik secara sadar berpikir bagaimana seharusnya. Kita tidak menghendaki anak didik bereaksi dengan cepat secara insting. Kita menghendaki anak didik mengetahui metoda-metoda kita sehingga mereka dapat menanggapi sama tenang dan cerdasnya.
Ketekunan juga berarti kita harus fleksibel di dalam strategi dan taktik kita. Jika metodanya tidak berhasil, kita perlu mencoba cara lain. Jika jalannya mendapatkan halangan, kita dapat beralih ke hal lain yang juga memerlukan perhatian. Jika anak didik seperti kehilangan minatnya, kita dapat dengan kreatif mencoba pendekatan baru terhadap permasalahan.
Pendidikan tanpa kekerasan harus dipenuhi kesabaran dan memaafkan dan di saat yang sama gigih dalam membantu. Ketika anak didik mengakui bahwa mereka sudah melakukan kesalahan, kita harus menunjukkan sifat pemaaf kepada mereka. Sasaran terakhir dari pendidikan tanpa kekerasan bukanlah kemenangan atas anak-anak didik kita tetapi menemukan sebuah kehidupan yang harmonis antara pendidik sebagai orang tua, bersama-sama dengan anak didik dalam damai dan keadilan

PENUTUP
Dari penjelasan di atas, yang terpenting untuk menanggulangi munculnya praktik bullying di sekolah adalah ketegasan sekolah dalam menerapkan peraturan dan sanksi kepada segenap warga sekolah, termasuk di dalamnya guru, karyawan, dan siswa itu sendiri.
Kekerasan dalam pendidikan sangat bertentangan dengan berbagai landasan dalam pendidikan antara lain, landasan hukum, psikologi, sosial budaya dan filsafat. Hal ini dapat dicegah apabila guru melaksanakan 7 prinsip pendidikan tanpa kekerasan.
Diharapkan, dengan penegakan displin di semua unsur, tidak terdengar lagi seorang guru menghukum siswanya dengan marah-marah atau menampar. Dan diharapkan tidak ada lagi siswa yang melakukan tindakan kekerasan terhadap temannya. Sebab, kalau terbukti melanggar, berarti siap menerima sanksi.
Kita semua berharap kisah-kisah suram kekerasan oleh pendidik dan orang tua secara umum tidak terjadi lagi. Pendidikan dengan kekerasan hanya akan melahirkan traumatis-traumatis yang berujung pada pembalasan dendam, dan kita semua pasti tidak menghendaki hal demikian terus berlanjut tanpa berkeputusan, kemudian melahirkan generasi-generasi penuh kekerasan.

LANDASAN SOSIAL BUDAYA PENDIDIKAN

Setiap kegiatan manusia hampir tidak pernah lepas dari unsur sosial budaya. Sosial mengacu kepada hubungan antarindividu, antarmasyarakat, dan individu dengan masyarakat. Karena itu aspek sosial melekat pada diri individu yang perlu dikembangkan dalam perjalanan hidup peserta didik agar menjadi matang. Maka segi sosial ini perlu diperhatikan dalam proses pendidikan. Sama halnya dengan sosial, aspek budaya inipun sangat berperan dalam proses pendidikan.

Sosiologi dan Pendidikan
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok dan struktur sosialnya.
Sosiologi mempunyai ciri-ciri sebagai uraian berikut :
1. empiris: bersumber dan diciptakan dari kenyataan yang terjadi di lapangan.
2. teoretis : merupakan peningkatan fase penciptaan, bisa disimpan dalam waktu lama, dan dapat diwariskan kepada generasi muda.
3. komulatif : berkomulasi mengarah kepada teori yang lebih baik.
4. nonetis : menceritakan apa adanya, tidak menilai apakah hal itu baik atau buruk.
Salah satu bagian sosiologi, yang dapat dipandang sebagai sosiologi khusus adalah sosiologi pendidikan. Wuradji (1988) menulis bahwa sosiologi pendidikan meliputi : (1) interaksi guru-siswa, (2) dinamika kelompok di kelas dan di organisasi intra sekolah, (3) struktur dan fungsi sistem pendidikan, dan (4) sistem masyarakat dan pengaruhnya terhadap pendidikan. Wujud sosiologi pendidikan adalah tentang konsep proses sosial.
Proses sosial dimulai dari interaksi sosial yang didasari oleh faktor-faktor berikut :
1. imitasi
2. sugesti
3. identifikasi
4. simpati.
Imitasi atau peniruan bisa bersifat positif dan bisa pula bersifat negatif. Sugesti akan terjadi kalau seorang anak menerima atau tertarik pada pandangan atau sikap orang lain yang berwibawa atau berwewenang atau mayoritas. Seorang anak dapat juga mensosialisasikan diri lewat identifikasi yang mencoba menyamakan dirinya dengan orang lain, baik secara sadar maupun di bawah sadar. Simpati akan terjadi manakala seseorang merasa tertarik kepada orang lain.
Untuk memudahkan terjadi sosialisasi dalam pendidikan, maka guru perlu menciptakan situasi, terutama pada dirinya, agar faktor-faktor yang mendasari sosialisasi itu muncul pada diri anak-anak.
Interaksi sosial akan terjadi apabila memenuhi dua syarat berikut :
1. kotak sosial
2. komunikasi.
Kontak sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu :
1. kontak antarindividu
2. kontak antara individu dengan kelompok atau sebaliknya.
3. kontak antarkelompok.
Komunikasi adalah proses penyampaian pikiran dan per asaan seseorang kepada orang lain atau sekelompok orang. Ada sejumlah alat yang dapat dipakai mengadakan komunikasi dalam pendidikan, yaitu :
1. melalui pembicaraan
2. melalui mimik
3. dengan lambang
4. dengan alat-alat.
Ada sejumlah bentuk interaksi sosial, yaitu sebagai berikut :
1. kerjasama
2. akomodasi, ialah usaha untuk meredakan pertentangan, mencari kestabilan, serta kondisi berimbang di antara para anggota.
3. asimilasi atau akulturasi, ialah usaha mengurangi perbedaan pendapat antaraanggota serta usaha meningkatkan persatuan pikiran, sikap, dan tindakan dengan memperhatikan tujuan-tujuan bersama. Faktor-faktor yang dapat mempermudah terjadinya akulturasi antara lain :
a. toleransi
b. menghargai kebudayaan orang lain
c. sikap terbuka
d. demokrasi dalam banyak hal
e. ada kepentingan yang sama.
4. persaingan
5. pertikaian, ialah proses sosial yang menunjukkan pertentangan atau konflik satu dengan yang lain.
Kini mari kita lanjutkan dengan pembahasan tentang kelompok sosial. Kelompok sosial berarti himpunan sejumlah orang, paling sedikit dua orang, yang hidup bersama, karena cita-cita yang sama. Ada beberapa persyaratan untuk terjadinya kelompok sosial, yaitu :
1. setiap anggota memiliki kesadaran sebagai bagian dari kelompok.
2. ada interaksi atau hubungan timbal balik antara anggota.
3. mempunyai tujuan yang sama.
4. membentuk norma yang mengatur ikatan kelompok.
5. terjadi struktur dalam kelompok yang membentuk peranan dan status sebagai dasar kegiatan dalam kelompok.
Dalam dunia pendidikan kelompok sosial ini bisa berbentuk kelompok personalia sekolah, kelompok guru, kelompok siswa, kelas, subkelas, kelompok belajar di rumah,dan sebagainya.
Dalam kelompok sosial dibedakan antara kelompok primer dan skunder. Kelompok primer akan terjadi manakala hubungan antar-anggota cukup erat, kenal, dan akrab satu dengan yang lain. Sedangkan kelompok sekunder adalah kelompok yang anggotanya cukup banyak sehingga seringkali mereka tidak kenal satu dengan yang lain.
Ada istilah lain yang berhubungan dengan kelompok sosial, yaitu kelompok formal dan kelompok informal. Kelompok formal adalah kelompok yang memiliki aturan-aturan yang jelas yang sengaja diciptakan untuk menegakkan kelompok itu. Sebaliknya kelompok informal adalah kelompok yang tidak punya peraturan seperti itu.
Ada dua teori yang dipakai untuk meningkatkan produktivitas kelompok sosial, yaitu: (Wuraji, 1988 dan Sudarja, 1988).
1. Teori Struktur Fungsional
2. Teori Konflik.
Teori Struktur Fungsional memanfaatkan struktur dan fungsi untuk meningkatkan produktivitas kelompok. Teori ini kemudian dikembangkan menjadi teori Pluralis, artinya masing-masing bagian kelompok diberi kebebasan lebih besar dari semula dalam berinisiatif, mengembangkan ide dan berkreasi, yang kemudian dimusyawarahkan dan disaring dalam kelompok. Teori Konflik menggunakan prinsip-prinsip pemaksaan dalam melakukan perbaikan atau perubahan kelompok sosial. Teori ini kemudian dikembangkan menjadi teori radikal, artinya perubahan-perubahan dalam kelompok sosial dilakukan secara radikal.
Ada beberapa faktor yang merupakan kekuatan-kekuatan dalam kelompok yang menimbulkan dinamika kelompok, yaitu :
1. tujuan kelompok
2. pembinaan kelompok.
3. rasa persatuan dalam kelompok.
4. iklim kelompok.
5. efektifitas kelompok.
Berbicara tentang dinamika kelompok, maka perlu diketahui tentang istilah dinamika yang stabil. Suatu kelompok sosial dinamis yang stabil, artinya kelompok ini berusaha maju mengikuti zaman atau mengantisipasi perkembangan ilmu dan teknologi dengan tetap memperhatikan kestabilan kelompok. Wuradji (1988) menyebutkan tiga prinsip yang melandasi kestabilan kelompok, yaitu integritas, ketenangan, dan konsensus.
Untuk menciptakan dinamika yang stabil di sekolah, sebaiknya sekolah sebagai micro-order atau keteraturan kecil (Broom, 1988) atau sekolah sebagai masyarakat kecil. Dalam sosiologi, perilaku manusia bertalian dengan nilai-nilai. Ada sejumlah nilai, yang secara garis besar dikatakan ada empat sumber nilai, yaitu :
1. norma-norma yang mencakup : (Hassan, 1983)
a. norma-norma umum yang berlaku di masyarakat.
b. Folkways, ialah norma-norma yang berisi kebiasaan, adat, dan tradisi yang sifatnya turun-temurun.
c. Mores, ialah hal-hal yang diwajibkan untuk dianut dan diharamkan bila dilanggar.
2. agama, yaitu nilai-nilai yang tertera dalam ajaran agama.
3. peraturan dan perundang-undangan. Dalam pendidikan adalah UU No.2 Tahun 1989.
4. pengetahuan. Maksud dikembangkannya pengetahuan adalah untuk meningkatkan hidup dan kehidupan manusia.
Sekolah-sekolah harus memperhatikan pengembangan nilai-nilai ini pada anak-anak di sekolah. Seperti harapan Coleman (1984), yaitu sekolah memperbaiki kesehatan mental bangsa, dan Wuradji (1988) mengemukakan (1) sekolah sebagai kontrol sosial dan (2) sekolah sebagai perubahan sosial. Tugas-tugas pembinaan mental tersebut harus sejalan dengan salah satu pasal dalam UU pendidikan kita yang mengatakan sekolah/pemerintah, orang tua siswa, dan masyarakat secara bersama-sama bertanggung jawab atas lancarnya pelaksanaan pendidikan.

Kebudayaan dan Pendidikan
Kebudayaan menurut Taylor adalah totalitas yang kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat, dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh orang sebagai anggota masyarakat (Imran Hassan, 1989). Hassan (1983) mengemukakan kebudayaan adalah keseluruhan dari hasil manusia hidup bermasyarakat berisi aksi-aksi terhadap dan oleh sesama manusia sebagai anggota masyarakat yang merupakan kepandaian, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat, dan lain-lain kepandaian. Sedangkan Kneller mengatakan kebudayaan adalah cara hidup yang telah dikembangkan oleh anggota-anggota masyarakat (Imran Manan, 1989). Hassan (1983) mengatakan kebudayaan berisi (1) norma-norma, (2) folkways yang mencakup kebiasaan, adat, dan tradisi (3) mores. Sementara Imran Manan (1989) menunjukkan lima komponen kebudayaan sebagai berikut :
1. gagasan
2. ideologi
3. norma
4. teknologi
5. benda
agar menjadi lengkap, perlu ditambah beberapa komponen lagi, yaitu :
1. kesenian
2. ilmu
3. kepandaian.

Kebudayaan dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu :
1. kebudayaan umum
2. kebudayaan daerah
3. kebudayaan populer.
Kebudayaan umum harus diajarkan pada semua sekolah. Sementara kebudayaan daerah dapat dikaitkan dengan kurikulum muatan lokal, dan kebudayaan populer dapat juga diajarkan dengan proposi yang kecil. Kneller mengemukakan ada dua tonggak yang membuat kebudayaan berkembang dengan pesat (Imran Manan, 19891), adalah :
1. Revolusi Industri I dengan diketemukannya mesin uap abad ke-18.
2. Revolusi Industri II sejak tahun 1945. Revolusi yang membuat zaman sekarang menjadi era gobalisasi dan informasi.
Karena itu sekolah maupun perguruan tinggi patut mengutamakan pelajaran tentang ilmu dan teknologi, namun tidak berarti mengesampingkan pelajaran-pelajaran lain. Ada tiga hal yang menimbulkan perubahan kebudayaan menurut Kneller ialah : (Imran Manan, 1989).
1. originasi, yaitu sesuatu yang baru atau penemuan-penemuan baru. Hasil penemuan ini akan menggeser atau memperbarui yang lama.
2. difusi, yaitu pembentukan kebudayaan baru akibat masuknya elemen-elemen budaya yang baru kedalam budaya yang lama.
3. reinterpretasi, ialah perubahan kebudayaan akibat terjadinya modifikasi elemen-elemen kebudayaan yang telah ada agar sesuai dengan keadaan zaman.
Pendidikan adalah bagian kebudayaan. Bila kebudayaan berubah maka pendidikan juga bisa berubah dan bila pendidikan berubah akan dapat mengubah kebudayaan. Pendidikan adalah enkulturasi (Imran Manan, 1989). Pendidikan adalah suatu proses membuat orang kemasukan budaya, membuat orang berprilaku mengikuti budaya yang memasuki dirinya. Sekolah adalah salah satu dari tempat enkulturasi. Suatu budaya sesungguhnya merupakan bahan masukan atau pertimbangan bagi anak dalam mengembangkan dirinya.
Kerber dan Smith (Imran Manan, 1989) menyebutkan ada enam fungsi utama kebudayaan dalam kehidupan manusia, yaitu :
1. penerus keturunan dan pengasuh anak.
2. pengembangan kehidupan berekonomi.
3. transmisi budaya.
4. meningkatkan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
5. pengendalian sosial.
6. rekreasi.
mari kita terus kan pembahasa kebudayaan ini dengan kebudayaan Indonesia baru. Pidato Umar Khayam (1992) dalam kongres kebudayaan membahas tentang kebudayaan nasional mengemukakan bahwa kebudayaan nasional adalah suatu kebudayaan baru, yang akan membawa perjalanan bangsa ini menuju ke masyarakat modern yang dikehendaki dan mempunyai enam ciri sebagai berikut :
1. afeksi yang memiliki atau mengandung :
a. sikap jujur dalam semua bidang.
b. Tidak munafik
c. Tulus dan ikhlas dalam semua pekerjaan yang har us dilakukan.
2. sistem politik yang demokratis, yaitu :
a. pemerintahan oleh rakyat untuk rakyat
b. rakyat selalu mendapat kesempatan untuk mempertanyakan perihal pemerintahannya.
3. sistem ekonomi yang :
a. memberi kesempatan adil kepada semua warga negara untuk mendapat penghidupan dan kehidupan yang layak sesuai dengan harkat kemanusiaan.
b. Mampu menciptakan pasar luas untuk bersaing.
c. Menyalurkan hasil penjualan untuk kesejahteraan yang relatif merata pada seluruh masyarakat.
4. sistem pendidikan yang :
a. sanggup menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga negara untuk mendapatkan pendidikan, yang menjamin dapat menemukan atau mengadakan lapangan pekerjaan yang dipilihnya.
b. mampu mendorong perkembangan ilmu dan teknologi yang setinggi-tingginya.
5. sistem kesenian yang :
a. mampu mengembangkan suasana kehidupan kesenian yang kaya serta penuh vitalitas.
b. Tanpa adanya beban penghalang terhadap pernyataan kesenian.
6. sistem kepercayaan yang :
a. sehat, toleransi, dan damai.
b. Memberi tempat seluas-luasnya kepada semua bentuk agama untuk berlangsung secara selamat dan tenteram.
Umar Khayam melihat enam butir sebagai landasan untuk meningkatkan kebudayaan Indonesia menjadi kebudayaan yang baru.

Masyarakat dan Sekolah
Asal mula munculnya sekolah adalah atas dasar anggapan dan kenyataan bahwa pada
umumnya para orang tua tidak mampu mendidik anak mereka secara sempurna dan lengkap. Karena itu mereka membutuhkan bantuan kepada pihak lain, dalam hal ini lembaga pendidikan untuk mengembangkan anak-anak mereka secara relatif sempurna. Lembaga pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat itu sendiri. Lembaga pendidikan ada di masyarakat hidup bersama-sama dengan warga masyarakat. Sekolah tidak dibenarkan sebagai menara air, yaitu melebur menjadi satu dengan masyarakat tanpa memberikan identitas apa-apa. Ia juga tidak dibenarkan sebagai menara gading yang mengisolasi diri terhadap masyarakat sekitarnya. Lembaga pendidikan yang benar, adalah ibarat menara penerang, yaitu berada di masyarakat dan sekaligus memberi penerangan kepada masyarakat setempat.
Hubungan antara lembaga pendidikan dengan masyarakat dapat dibayangkan sebagai selembar kain batik. Dalam hal ini motif-motif atau pola-pola gambarnya adalah lembaga pendidikan dan kain latarnya adalah masyarakat. Antara lembaga pendidikan dengan masyarakat terjadi hubungan timbal balik. Pendidikan atau sekolah memberi manfaat kepada masyarakat begitu pula masyarakat memberikan dukungannya kepada sekolah. Manfaat pendidikan bagi masyarakat adalah untuk meningkatkan peranan mereka sebagai warga masyarakat, baik yang berkaitan dengan kewajiban maupun dengan hak mereka. Khusus bagi para siswa dan para remaja, manfaat pendidikan adalah lebih bersifat sebagai wahana persiapan untuk menjadi individu dan warga negara yang baik.
Zanti Arbi (1988) mengatakan bahwa pendidikan itu adalah kunci bagi pemecahan masalah-masalah sosial, dan sekolah juga merupakan alat kontrol sosial. Wuradji (1988) juga menulis tentang sekolah sebagai kontrol sosial dan perubah sosial. Selanjutnya Wuradji menyebutkan fungsi-fungsi pendidikan sebagai berikut. Pertama, pendidikan sebagai lembaga konservasi yang mencakup fungsi kontrol sosial, pelestari budaya, dan seleksi serta alokasi terhadap para lulusan dalam wujud kualifikasi tertentu yang cocok untuk jenis pekerjaan tertentu. Kedua, pendidikan sebagai perubahan sosial yang mencakup reproduksi budaya, difusi kebudayaan, meningkatkan kemampuan menganalisis secara kritis, memodifikasi hierarki ekonomi masyarakat, dan perguruan tinggi sebagai pusat perubahan.
Sementara itu Broom (1981) menyebut fungsi pendidikan sebagai (1) transmisi budaya, (2) meningkatkan integrasi sosial atau bermasyarakat, (3) mengadakan seleksi dan alokasi tenaga kerja melalui pendidikan itu sendiri, dan (4) mengembangkan kepribadian. Dari pendapat beberapa para ahli tersebut di atas, maka manfaat sekolah atau pendidikan bagi masyarakat adalah sebagai berikut :
1. pendidikan sebagai transmisi budaya dan pelestari budaya.
2. sekolah sebagai pusat budaya bagi masyarakat sekitarnya.
3. sekolah mengembangkan kepribadian anak disamping oleh keluarga anak itu sendiri.
4. pendidikan membuat orang menjadi warga negara yang baik, tahu akan kewajiban dan haknya.
5. pendidikan meningkatkan integrasi sosial atau kemampuan bermasyarakat.
6. pendidikan meningkatkan kemampuan menganalisis secara kritis, melalui pelajaran ilmu,
teknologi, dan kesenian.
7. sekolah meningkatkan alat kontrol sosial dengan memberi pendidikan agama dan budi pekerti.
8. sekolah membantu memecahkan masalah-masalah sosial.
9. pendidikan adalah sebagai perubah sosial melalui kebudayaan-kebudayaan baru.
10. pendidikan berfungsi sebagai seleksi dan alokasi tenaga kerja.
11. pendidikan dapat memodifikasi hierarki ekonomi masyarakat.

Sudah merupakan konsep umum dalam dunia pendidikan , bahwa proses belajar yang baik tidak hanya dilaksanakan di sekolah, melainkan sebaiknya diperluas ke lapangan atau masyarakat. Salah satu bnetuk belajar di masyarakat adalah karya wisata. Dukungan yang lain adalah tersedianya para narasumber di masyarakat yaitu orang-orang yang terampil atau yang menguasai konsep tertentu yang bekerja atau bertugas di masyarakat. Kondisi dan keadaan daerah atau masyarakat bisa merupakan inspirasi bagi lembaga pendidikan untuk memberi variasi kepada kurikulumnya, yang dikenal sebagai kurikulum muatan lokal. Kontrol sosial merupakan manfaat tersendiri bagi lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan yang ditangani bersama sekolah dengan anggota masyarakat memang patut mendapat kontrol dari kedua belah pihak. Sebagai konsekuensi tanggung jawab bersama, tuntutan dan kontrol dari pihak masyarakat, maka masyarakat merasa wajib memberi bantuan baik berupa dana maupun materiil lainnya kepada sekolah. Hubungan yang erat antara sekolah dengan masyarakat karena saling membutuhkan satu dengan yang lain, membuat kemungkinan terbentuknya badan kerjasama yang relatif permanen.

Masyarakat Indonesia dan Pendidikan
Sebagian besar masyarakat Indonesia sekarang sudah sadar akan pentingnya pendidikan untuk meningkatkan hidup dan kehidupan. Asumsi mereka adalah makin tinggi ijazah yang dapat diraih makin cepat dapat pekerjaan serta makin besar gaji yang diterima. Namun kenyataan menunjukkan tidak persis seperti itu. Hal ini disebabkan karena pemakai tenaga kerja tidak percaya begitu saja kepada isi ijazah, mereka lebih percaya kepada kemampuan, keterampilan, dan kepribadian para pencari kerja. Belakangan ini, mereka sudah mulai memilih perguruan tinggi yang bermutu atau cukup bermutu. Sementara itu lulusan sekolah ataupun perguruan tinggi hampir seluruhnya ditentukan oleh prestasi belajar dalam aspek kognisi. Dengan demikian tujuan pendidikan nasional untuk membentuk manusia seutuhnya belum tercapai.
Ada beberapa hal yang tampaknya sudah kena pengaruh globalisasi terhadap masyarakat Indonesia, antara lain :
1. Bidang ekonomi
a. Bantuan dana dari luar negeri.
b. Penanaman modal asing di Indonesia
c. Industri dan perdagangan Indonesia menyebar ke luar negeri atau sebaliknya industri dan perdagangan asing masuk ke Indonesia.
d. Ekonomi moneter tidak dapat diisolasi dari pengaruh dunia luar.
2. Bidang politik
Tokoh-tokoh internasional sering kali mempermasalahkan :
a. HAM
b. demokrasi

3. bidang kebudayaan
a. lagu-lagu barat sudah banyak masuk ke Indonesia
c. tayangan lagu dan cerita barat terlalu banyak terutama di televisi swasta. Tampak seolah-olah tidak menghiraukan kesenian daerah atau Indonesia.
d. budaya konsumtif yang tidak puas belanja di dalam negeri.
4. kehidupan remaja
a. minum minuman keras.
b. Ikut-ikutan memakai narkoba
c. Bermain-main di klub malam
d. Melakukan tindakan kekerasan.
Ada empat faktor penyebab menyusutnya kondisi sosial atau kemasyarakat, yaitu :
1. pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sudah tinggi, membuat ekonomi masyarakat pada umumnya semakin meningkat.
2. akibat kemapuan daya beli meningkat, maka kewajaran manusia yang mencintai harta benda semakin terpenuhi.
3. gerakan emansipasi mempercepat proses memperkerjakan orang perempuan. Akibatnya banyak suami istri dalam keluarga bekerja keduanya.
Ketiga butir diatas tidak terlepas dari pengaruh globalisasi dunia.
Anita (1996) menggambarkan situasi keluarga dalam pasca modern ini sebagian besar
suami istri bekerja sama-sama mencari nafkah, angka perceraian yang tinggi, dan sejumlah keluarga hanya dengan satu orang tua saja. Sehingga, dapat dibayangkan bagaimana kualitas pendidikan dalam keluarga. Bagaimanakah sebaiknya tanggapan dan tindakan pendidikan terhadap kondisi masyarakat seperti ini? Pertama-tama adalah tanggapan terhadap kesadaran masyarakat dan remaja terhadap pendidikan. Kesadaran mereka kini cenderung positif dan selektif, tetapi ada sejumlah dari mereka yang dengan alasan tertentu bersikap positif tidak selektif. Jalan yang ditempuh untuk membendung kelompok ini adalah :
1. mutu sekolah dan perguruan tinggi ditingkatkan.
2. dengan cara melakukan akreditasi secara konsekuen.
3. yang tidak lulus akreditasi, harus bergabung satu dengan yang lain agar mutu meningkat.
4. seleksi penerimaan siswa atau mahasiswa harus dilakukan secara ketat.
Dengan cara ini diharapkan remaja dan orang-orang tidak ada yang belajar sekedar mencari ijazah, melainkan belajar untuk menjadi pandai dan berpribadi baik. Kedua, mengenai tanggapan dan tindakan kita terhadap kebudayaan termasuk pendidikannyang sudah digoyah oleh globalisasi, sebgaian besar masyarakat menekankan pada upaya memperkuat jati diri yang bersumber dari filsafat Pancasila. Hal ini sejalan dengan pikiran Takdir Alisyahbana (1992) yang menyatakan bahwa orang-orang berbicara tentang Pancasila pada hakikatnya lebih merupakan ucapan rutin daripada pikiran dan rencana yang jelas batas-batasnya.

Di samping memperkuat jati diri, ada hal-hal tertentu yang bisa dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan pengaruh globalisasi terhadap kebudayaan dan kehidupan remaja, antara lain :
1. membuat pembatasan kepada media elektronik terutama televisi yang sangat berpengaruh kepada kehidupan anak- anak dan remaja, untuk :
a. maksimal 50% menayangkan lagu-lagu luar negeri.
b. Minimal 50% menayangkan kesenian-kesenian daerah
c. Hanya menayangkan film aksi yang tidak berbau kekerasan.
d. Tidak menayangkan film-film yang mengundang erotis.
2. mendukung tindakan pemerintah terhadap upaya memerangi perilaku negatif para remaja, seperti :
a. memberantas minuman keras dan narkotika
b. mengurangi jumlah klub malam dan mengawasi tindakan-tindakan yang negatif.
c. menangkap dan menghukum mereka yang berkelahi.
d. meningkatkan mutu pendidikan sekolah, luar sekolah, dan keluarga.
e. memberikan penyaluran kegiatan yang positif atau pekerjaan yang pantas.
Ada beberapa tokoh yang menghendaki terjadinya pergeseran paradigma pendidikan antara lain oleh Rektor IKIP Yogyakarta dalam forum Simposium Nasional yang diadakan di Yogyakarta tahun 1996. dikatakan paradigma itu bergerak antara lain :
1. pendidikan adalah usaha sadar ke pendidikan sebagai usaha sadar dan tidak disadari.
2. pendidikan sekolah kependidikan sekolah dan luar sekolah
4. pendidikan dan pengajaran kebudayaan
5. proses asembling ke proses membangun dari awal.
Perubahan paradigma ini mungkin bias dilengkapi butir lain yang bersumber dari pemikiran Anita (1996) sebagai pemberi inspirasi, yaitu :
1. anak yang patuh ke anak yang mandiri
2. anak sebagai makhluk yang terlindungi, ke anak yang berkompetensi.
Inilah pendapat mereka tentang cara menaggulangi kondisi masyarakat dan keluarga di zaman sekarang.
Untuk membuat kebudayaan, termasuk pendidikan luar sekolah sebagai sesuatu yang
tidak selalu disadari oleh pendidik, menjadi wadah proses belajar sehingga anak dapat berkembang wajar sejak awal, membutuhkan sejumlah pembenahan.
1. kerjasama orang tua, masyarakat, dan pemerintah dalam memperbaiki pendidikan ditingkatkan.
2. pendidikan luar sekolah, termasuk pendidikan keluarga, ditangani secara serius, paling sedikit sama intensitasnya dengan penanganan pendidikan jalur sekolah.
3. kebudayaan, terutama tayangan televisi, yang paling banyak pengaruhnya terhadap perkembangan anak dan remaja, perlu ditangani dengan baik.
4. kebudayaan-kebudayaan negatif yang lain perlu dihilangkan dengan berbagai cara.
Selanjutnya untuk membuat anak menjadi madiri dan berkompetensi, yang sebetulnya
juga merupakan cita-cita pendidikan yang telah digariskan, merupakan persoalan metodologi belajar dan mengajar. Untuk itu, dalam masa transisi ini, kalau pendidikan akan direorganisasi, perlu :
1. memasukkan materi pelajaran yang diambil dari keadaan nyata di masyarakat atau keluarga.
2. metode belajar yang mengaktifkan siswa baik individual maupun kelompok
4. beberapa kali mengadakan survei di masyarakat tentang berbagai kebudayaan
5. ikut memecahkan masalah masyarakat dan keluarga.
6. memberi kesempatan berinovasi atau kreatif menciptakan sesuatu yang baru yang lebih baik tentang hidup dan kehidupan.

Kepustakaan :
Made, Pidarta, Prof. Dr. 2007. Landasan Kependidikan Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia , Rineka Cipta : Jakarta.

LANDASAN FILSAFAT

A. Filsafat, Ilmu, dan Ilmu Pendidikan
Filsafat ialah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam tentang sesuatu sampai ke akar-akarnya. Dalam garis besarnya ada empat cabang filsafat yaitu:
1. Metafisika, ialah filsafat yang meninjau tentang hakikat segala sesuatu yang terdapat di alam. Dalam kaitannya dengan manusia, ada dua pandangan yaitu manusia pada hakikatnya adalah spiritual dan manusia adalah organisme materi.
2. Epistemologi, filsafat yang membahas tentang pengetehuan dan kebenaran, dengan rincian masing-masing sebagai berikut:
• Ada lima sumber pengetahuan yaitu otoritas, common sense, intuisi, pikiran dan pengalaman
• Ada empat teori kebenaran yaitu koheren, koresponden, pragmatisme, dan skeptivisme
3. Logika, ialah filsafat yang membahas tentang cara manusia berpikir dengan benar
4. Etika, ialah filsafat yang menguraikan tentang perilaku manusia.
Suatu ilmu baru muncul setelah terjadi pengkajian dalam filsafat. Filsafat merupakan tempat berpijak bagi kegiatan pembentukan ilmu itu. Pendidikan adalah merupakan salah satu bidang ilmu. Sama halnya dengan ilmu-ilmu yang lain, pendidikan lahir dari induknya yaitu filsafat.

B. Filsafat Pendidikan
Filsafat pendidikan ialah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam sampai ke akar-akarnya mengenal pendidikan. Filsafat akan menjawab tiga pokok pertanyaan yaitu apakah pendidikan itu?, apa yang hendak ia capai?, dan bagaimana cara terbaik merealisasi tujuan-tujuan itu?
Yang dimaksud filsafat pendidikan adalah menginspirasikan, menganalisis, mempreskriptifkan, dan menginvestigasi.
 Menginspirasikan adalah memberi inspirasi kepada para pendidik untuk melaksanakan ide tertentu dalam pendidikan.
 Menganalisis dalam pendidikan adalah memeriksa secara teliti bagian-bagian pendidikan agar dapat diketahui secara jelas validitasnya.
 Mempreskriptifkan dalam filsafat pendidikan adalah upaya menjelaskan atau memberi pengarahan kepada pendidik melalui filsafat pendidikan.
 Menginvestigasi adalah untuk memeriksa atau meneliti kebenaran suatu teori pendidikan.

Beberapa aliran filsafat pendidikan yang dominan di dunia yaitu:
a. Esensialis, bertitik tolak dari kebenaran yang telah terbukti berabad-abad lamanya. Kebenaran yang esensial ialah kebudayaan klasik yang muncul pada zaman Romawi yang menggunakan buku-buku klasik ditulis dengan bahasa Latin yang dikenal dengan nama Great Book. Tokoh aliran filsafat ini adalah Brameld.
Tekanan pendidikannya adalah pada pembentukkan intelektual dan logika. Disiplin sangat diperhatikan. Pelajaran dibuat sangat berstruktur, dengan materi pelajaran berupa warisan kebudayaan, yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga rupa sehingga mempercepat kebiasaan berpikir efektif. Pengajaran terpusat pada guru.
b. Perenialis, kebenaran perenialis ada pada wahyu Tuhan. Tentang bagaimana cara menumbuhkan kebenaran itu pada diri peserta didik dalam proses belajar mengajar tidak jauh berbeda dengan esensialis. Filsafat ini muncul pada abad pertengahan pada zaman keemasan agama Katolik-Kristen. Tokoh filsafat ini ialah Agustinus dan Thomas Aquino.
c. Progresivis, filsafat pendidikan ini lahir di Amerika Serikat dengan tokohnya yaitu John Dewey. Menurut pandangan filsafat ini, mengembangkan peserta didik untuk bisa berpikir, yaitu bagaimana berpikir yang baik melalui metode belajar pemecahan masalah yang dilakukan oleh anak-anak itu sendiri. Karena itu pendidikan menjadi terpusat pada anak. Untuk mempercepat proses pengembangan mereka juga menekankan prinsip mendisiplin diri sendiri, sosialisasi, dan demokratisasi. Perbedaan-perbedaan individual juga sangat diperhatikan dalam pendidikan. Kurikulum tidak dibatasi pada hal-hal yang bersifat akademik saja. Sekolah merupakan bagian dari masyarakat. Pendidikan mengupayakan kehidupan sosial yang lebih baik serta sebagai agen pembaruan masyarakat.
d. Rekonstruksionis, merupakan variasi dari progresivisme. Filsafat ini menginginkan semua bidang kehidupan harus diubah dan dibuat baru dengan merombak tata susunan masyarakat lama dan membangun tata susunan hidup yang baru melalui lembaga dan proses pendidikan.
e. Eksistensialis, berpendapat bahwa kenyataan atau kebenaran adalah eksistensi atau adanya individu manusia itu sendiri. Pendidikan menurut filsafat ini bertujuan mengembangkan kesadaran individu, memberi kesempatan untuk bebas memiliki etika, mendorong pengembangan pengetahuan diri sendiri bertanggung jawab sendiri dan mengembangkan komitmen diri. Materi pelajaran harus memberi kesempatan aktif sendiri, merencana dan melaksanakan sendiri, baik dalam bekerja sendiri maupun kelompok. Materi yang dipelajari ditekankan kepada kebutuhan langsung dalam kehidupan manusia. Peserta didik perlu mendapatkan pengalaman sesuai dengan perbedaan-perbedaan individual mereka. Guru harus bersifat demokratis dengan teknik mengajar tidak langsung.
C. Filsafat Pendidikan di Indonesia
Bangsa Indonesia baru memiliki filsafat umum atau filsafat negara yaitu Pancasila. Belum ada upaya mengoperasionalkan Pancasila agar mudah diterapkan dalam kegiatan-kegiatan di masyarakat, termasuk penerapannya dalam dunia pendidikan. Dunia pendidikan di Indonesia belum punya konsep atau teori-teori sendiri yang cocok dengan kondisi, kebiasaan atau budaya Indonesia tentang pengertian pendidikan dan cara-cara mencapai tujuan pendidikan. Sebagian besar konsep atau teori pendidikan diimpor dari luar negeri sehingga belum tentu valid untuk diterapkan di Indonesia.
Ditinjau dari segi arah pengembangan pendidikan di Indonesia masih terjadi perbedaan. Belum ada kekompakan antara para ahli dan pecinta pendidikan mengenai ilmu pendidikan yang diinginkan. Sebagian besar berorientasi pada ilmu pendidikan di Eropa dan sebagian lagi di Amerika Serikat.
Kegiatan pendidikan di Indonesia hanya baru satu segi saja, yaitu segi operasionalnya. Itupun hanya terjadi pada jalur pendidikan formal. Jalur pendidikan nonformal dan informal belum banyak yang digarap.
Ketidakkonsistenan arah pendidikan karena pengarahan yang kurang jelas. Yang ada hanya arahan umum yang bisa ditemukan dalam Undang-Undang Pendidikan Nasional beserta peraturan-peraturannya. Arahan seperti ini sulit diaplikasikan di lapangan.
Untuk bisa membentuk teori pendidikan yang valid, terlebih dahulu dibutuhkan filsafat pendidikan yang bercorak Indonesia yang memadai. Filsafat ini akan menguraikan tentang:
1. pengertian pendidikan yang jelas, yang satu dan berlaku di seluruh tanah air
2. tujuan pendidikan, yaitu membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang diwarnai oleh sila-sila Pancasila
3. model pendidikan, yang membahas tentang model pendidikan di Indonesia yang tepat
4. cara mencapai tujuan, yaitu segi teknik dan pendidikan itu sendiri.

D. Upaya Mewujudkan Filsafat Pendidikan di Indonesia
Untuk mengembangkan ilmu pendidikan yang bercorak Indonesia secara valid, terlebih dahulu dibutukan pemikiran dan perenungan yang mendalam tentang ilmu itu sendiri dan budaya serta geografis Indonesia.
Upaya mendorong pemerintah untuk memberikan isyarat akan pentingnya perumusan filsafat pendidikan dan teori pendidikan yang bercorak Indonesia sudah pernah dilakukan menjelang sidang umum MPR tahun 1992. Namun GBHN 1993 tidak mencantumkan perumusan filsafat dan teori pendidikan yang menunjukkan kemauan politik pemerintah ke arah itu belum ada.

E. Implikasi Konsep Pendidikan
• Filsafat pendidikan Indonesia perlu segera diwujudkan agar ilmu pendidikan bercorak Indonesia lebih mudah dibentuk
• Peranan dan pengembangan sila-sila Pancasila pada diri peserta didik pada hakikatnya adalah pengembangan afeksi
• Pendidikan Pancasila dan pendidikan agama tidak bertentangan, melainkan saling melengkapi satu dengan yang lain
• Materi pendidikan afeksi selain bersumber dari bidang studi yang membahas moral Pancasila dan ajaran agama, sebaiknya dilengkapi dengan nilai-nilai adat istiadat yang masih hidup di masyarakat Indonesia serta budi pekerti luhur
• Metode mengembangkan afeksi dibagi dua yaitu untuk pendidikan afeksi yang berbentuk bidang studi, sila-sila Pancasila dan ajaran-ajaran agama diberi dan dibahas secukupnya kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan untuk pendidikan afeksi yang diselipkan pada bidang-bidang studi lain, pendidik cukup menyinggung afeksi tertentu yang kebetulan tepat dimunculkan saat itu
• Evaluasi pendidikan afeksi haruslah dilakukan secara nyata, diberi skor, dan dimasukkan ke dalam rapor seperti halnya dengan bidang-bidang studi lain
• Dalam mengembangkan materi pendidikan afeksi, sangat mungkin sumber materi itu berasal dari luar negeri, maka perlu dilakukan penyaringan terlebih dahulu agar bisa diterima oleh kondisi dan budaya Indonesia sebelum dimasukkan sebagai materi pendidikan
• Dalam mengembangkan afeksi peserta didik, ada baiknya menghadirkan jauh lebih banyak budaya bangsa sendiri untuk menetralkan pengaruh budaya asing.

LANDASAN EKONOMI PENDIDIKAN

Pendahuluan.
Pada zaman globalisasi sekarang ini, sebagian besar manusia cenderung mengutamakan kesejahteraan materi (jasmaniah) dibandingkan kesejahteraan rohani (spiritual). Hal ini dipengaruhi oleh perkembangan budaya terutama dalam bidang teknologi, kesenian , dan pariwisata. Berbagai produk-produk baru di tawarkan membuat orang berusaha mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Apalagi kebutuhan dasar manusia yang membutuhkan ekonomi sehingga pembahasan tentang ekonomi tidak hanya untuk orang-orang kaya, melainkan semua orang juga termasuk dunia pendidikan.

Peran Ekonomi dalam kehidupan
Secara Makro
Alasan pemerintah Indonesia menetapkan pembangunan dibidang ekonomi pada pembangunan jangka panjang tahun pertama dan kedua adalah karena :
1. Ekonomi memegang peranan penting dalam kehidupan manusia
2. Agar tidak kalah bersaing dalam era globalisasi saat ini.
Akibatnya:
1. Muncul berbagai usaha baru, pabrik-pabrik baru, badan-badan perdagangan baru, dan badan-badan jasa yang baru.
2. Jumlah konglomerat bertambah banyak
3. Pertumbuhan ekonomi menjadi tinggi, dan penghasilan negara bertambah.
Dibidang Pendidikan berakibat :
1. Banyak orang kaya secara sukarela mau menjadi bapak angkat agar anak-anak tidak mampu bisa bersekolah.
2. Terlaksananya sistem ganda dalam pendidikan yaitu kerja sama antara sekolah dengan pihak usahawan dalam proses belajar-mengajar para siswa, dalam rangka mengembangkan keterampilan siswa.
3. Munculnya sejumlah sekolah unggul yang didirikan oleh orang-orang kaya atau konglomerat atau kumpulan dari mereka yang bertebaran di seluruh Indonesia. Sekolah ini lebih unggul dalam prasarana dan sarana pendidikan, dan juga dalam menggaji pendidik-pendidiknya.
Arah sekolah-sekolah unggul seperti di luar negeri menurut Buchori ( 1996 ) adalah :
1. Untuk membuat para siswa mecintai prestasi tinggi.
2. Mau dan bisa bekerja secara sempurna.
3. Memiliki etos kerja dan membenci kerja setengah-setengah.
4. Keseimbangan pengembangan jasmani dan rohani, keseimbangan penguasaan pengetahuan masa sekarang dengan masa lampau.

Secara Mikro
1. Ekonomi memegang peranan penting dalam kehidupan seseorang walaupun orang itu sudah menyadari bahwa kehidupan yang gemerlapan tidak menjamin memberi kebahagiaan.
2. Tingkat kehidupan sekolah atau perguruan tinggi sangat di tentukan oleh kondisi ekonominya masing-masing. Sekolah atau perguruan tinggi yang kaya akan bisa leluasa bergerak menggaji guru atau dosen, membeli perlengkapan besar dan sebagainya. Namun sebaiknya untuk sekolah yang miskin akan sulit bergerak.
3. Persekolahan di Indonesia sebagian besar masih lemah ekonominya, walaupun sudah punya gedung, tapi perlengkapan belajarnya masih minim, kesejahteraan guru belum memadai, sementara itu orang-orang kaya lebih memilih mendirikan sekolah sendiri (sekolah unggulan) dari pada memberikan uang kepada semua sekolah yang ada dalam jangka waktu yang tidak terbatas.

Fungsi produksi dalam pendidikan
1. Fungsi Produksi Administrator
Inputnya adalah segala sesuatu yang pendidikan yaitu: menjadi wahana dan proses
a. Prasarana dan sarana belajar, termasuk ruangan kelas.
b. Perlengkapan belajar, media dan alat peraga.
c. Buku-buku dan bentuk material lainnya, seperti disket.
d. Barang-barang habis pakai, seperti kertas dan alat tulis.
e. Waktu guru dan personalia bekerja.
Outputnya adalah berbagai bentuk layanan dalam memproses peserta didik.
2. Fungsi Produksi Psikologi
Inputnya sama dengan input pada fungsi produksi administrator.
Outputnya adalah semua hasil belajar siswa yang mencakup :
a. Peningkatan kepribadian.
b. Pengarahan dan pembentukan sikap.
c. Penguatan kemauan.
d. Peningkatan estetika.
e. Penambahan pengetahuan, ilmu, dan teknologi.
f. Penajaman pikiran.
g. Peningkatan keterampilan.

3. Fungsi Produksi Ekonomi.
Inputnya adalah :
a. Semua biaya pendidikan .
b. Semua uang yang dikeluarkan secar a pribadi untuk keperluan pendidikan.
c. Uang yang mungkin diperoleh lewat bekerja selama belajar atau kuliah.
Outputnya adalah tambahan penghasilan peserta didik kalau sudah tamat dan bekerja, jika orang ini sudah bekerja sebelum belajar atau kuliah. Dan jika belum pernah bekerja maka outputnya adalah gaji yang diterima setelah tamat atau bekerja.
Fungsi produksi ekonomi ini betalian erat dengan marketing didunia pendidikan. Marketing adalah analisis, perencanaan, implementasi, dan pengawasan untuk memberikan perubahan nilai dengan tar get pasar sebagai tujuan lembaga pendidikan (Kotler, 1985). Marketing mencakup :
1. Mendesain penawaran.
2. Menentukan kebutuhan atau keinginan pasar dalam hal ini calon peserta didik.
3. Menentukan harga efektif, mengadakan komunikasi, distribusi, dan meningkatan motivasi serta layanan.
Keuntungan Marketing :
1. Misi pendidikan terselenggara lebih sukses.
2. Meningkatkan kepuasan masyarakat.
3. Meningkatan daya tarik terhadap petugas, peserta didik, dana dan sebagainya.
4. Meningkatkan efisiensi kegiatan pemasaran.
Kelemahan Marketing :
1. Cendrung lembaga pendidikan menjadi usaha dagang untuk mendapatkan keuntungan uang.
2. Idialisme pendidikan cendrung diabaikan.

Ekonomi Pendidikan
Peranan ekonomi dalam dunia pendidikan cukup menentukan tetapi bukan pemegang peranan utama. Dunia pendidikan adalah lembaga yang berkewajiban mengembangkan individu manusia, sudah tentu pendidikan itu tidak akan membawa peserta didik kearah hidup yang membingungkan, menyusahkan, dan sengsara walaupun bisa mencari uang banyak. Artinya dunia pendidikan bukan dunia bisnis tempat berlatih mencari uang, melinkan dunia pembinaan tempat peserta didik belajar agar bisa hidup wajar dan damai. Ada hal lain yang lebih menentukan hidup matinya dan maju mundurnya suatu lembaga pendidikan dibandingkan dengan ekonomi dedikasi, keahlian dan keterampilan pengelolah dan guru-gurunya.
Fungsi ekonomi dalam dunia pendidikan ialah untuk menunjang kelancaran proses pendidikan dan juga berfungsi sebagai materi pelajaran dalam masalah ekonomi pada kehidupan manusia. Kegunaan ekonomi dalam pendidikan terbatas pada :
1. Untuk membeli keperluan pendidikan yang tidak dapat dibuat sendiri atau bersama siswa.
2. Membiayai segala perlengkapan gedung.
3. Membayar jasa semua kegiatan pendidikan.
4. Untuk mengembangkan individu yang berprilaku ekonomi.
5. Untuk memenuhi kebutuhan dasar dan keamanan para personalia pendidikan.
6. Meninkatkan motivasi kerja.
7. Membuat para personalia pendidikan lebih ber gairah bekerja.

Sumber-sumber dana :
1. Dari pemerintah dalam bentuk proyek pembangunan, pertandingan karya ilmiah dan sebagainya.
2. Dari kerjasama dengan instansi lain baik pemerintah swasta maupun dunia usaha.
3. Membentuk pajak pendidikan.
4. Usaha-usaha lain misalnya mengadakan pentas seni keliling, mengaktifkan komite sekolah dan sebagainya.

Menurut jenisnya biaya pendidikan terdiri dari :
1. Dana Rutin, adalah dana yang dipakai membiayai kegiatan rutin seperti gaji. Dan dipertanggungjawabkan dengan SPJ (Surat Pertanggungjawaban) yang disertai dengan bukti-bukti pembayaran yang sah.
2. Dana Pembangunan, adalah dana yang dipakai membiayai pembangunan-pembangunan dalam berbagai bidang juga dipertanggungjawabkan dengan SPJ (Surat Pertanggungjawaban) yang disertai dengan bukti-bukti pembayaran yang sah.
3. Dana Bantuan Masyarakat, adalah dana yang digunakan untuk membiayai hal-hal yang belum dibiayai oleh dana rutin dan dana pembangunan. Dan dipertanggungjawabkan dalam laporan yang disertai bukti-bukti pembayaran yang sah pada wakil-wakil masyarakat.

Tiga macam perencanaan biaya pendidikan adalah :
1. Perencanaan secara tradisional.
2. SP4 (Sistem Perencanaan Penyususnan Program dan Penganggaran). Alokasi dana diatur atas dasar realita.
3. ZBB (Zero Base Badgeting) hanya direncanakan satu tahun anggaran dan tiap-tiap kegiatan ditentukan biaya minimumnya.

Efisiensi dan efektivitas dana pendidikan
Yang dimaksud dengan efisiensi dalam menggunakan dana pendidikan adalah dana yang harganya sesuai atau lebih kecil dari pada produksi dan layanan pendidikan yang telah direncanakan. Sedangkan yang dimaksud dengan penggunaan dana pendidikan secara efektif adalah bila dengan dana tersenut pendidikan yang telah direncakan bisa dicapai dengan relatif sepurna.
Pemerintah memandang perlu meningkatkan efisiensi pendidikan karena :
1. Dana pendidikan sangat terbatas.
2. Departemen pendidikan seringkali mengalami kebocoran dana.
Faktor-faktor utama yang perlu diperhatikan dalam menentukan tingkat efisiensi pendidikan adalah :
1. Penggunaan Uang.
2. Proses Kegiatan.
3. Hasil Kegiatan
Efektivitas pendanaan juga untuk memilih alternatif pemrosesan yang terbaik :
1. Untuk alternatif-alternatif yang belum diuji coba, atau dengan asumsi sama-sama efektif, maka alternatif yang dipilih adalah yang memakai biaya yang paling kecil.
2. Untuk alternatif-alternatif yang sudah diuji coba, sehingga diketahui efektivitasnya masing-masing maka alternatif yang dipilih adalah yang memiliki angka hasil bagi biaya oleh efektivitasnya paling kecil.

Kepustakaan :
Made, Pidarta, Prof. Dr. 2007. Landasan Kependidikan Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia, Rineka Cipta : Jakarta.

LANDASAN HISTORIS PENDIDIKAN

A. Sejarah Pendidikan Dunia
• Zaman Hellenisme (150SM – 500)
• Zaman Pertengahan (500 – 1500)
• Zaman Humanisme atau Renaissance serta zaman Reformasi dan Kontra Reformasi (1600an)
• Zaman Realisme (abad ke-17)
Tokoh pendidikan: Francis Bacon
Pandangannya:
1. Dalam menemukan dan mengembangkan pengetahuan, pandangan harus diarahkan kepada realita alam ini serta hal-hal praktis yang ada di dalamnya
2. Alam lingkungan adalah sumber pengetahuan yang bisa didapat lewat alat-alat indera
3. Menggunakan metode berpikir induktif
4. Mengembangkan pengetahuan dengan eksperimen-eksperimen
5. Penggunaan bahasa daerah lebih diutamakan
Prinsip pendidikan yang dirumuskan oleh Bacon
1. Pendidikan lebih dihargai daripada pengajaran sebab mengembangkan semua kemampuan manusia
2. Pendidikan harus menekankan aktivitas sendiri
3. Penanaman pengertian lebih penting dari hafalan
4. Pelajaran disesuaikan dengan perkembangan anak
5. Pelajaran harus diberikan satu per satu
6. Pengetahuan diperoleh dengan metode induksi
7. Semua anak harus mempunyai kesempatan yang sama untuk belajar
Tokoh pendidikan Realisme yang lain yaitu Johann Amos Comenius
Pandangannya:
1. Belajar melalui peragaan atau cara sendiri di alam terbuka dengan observasi atau penelitian sehinggga anak-anak akan mendapat jawaban dari alam itu sendiri
2. Pelajaran harus maju selangkah demi selangkah, dari yang mudah ke yang sukar
3. Ekspresi dengan kata merupakan hal yang penting untuk mengetahui apa yang telah mereka pahami
• Zaman Rasionalisme (Abad ke-18)
Tokoh Pendidikan: John Locke
Tujuan aliran ini untuk memberikan kekuasaan bagi manusia untuk berpikir sendiri dan bertindak untuk dirinya.
Aliran ini disebut juga disiplinarianisme.
Teorinya yang terkenal leon Tabularasa dan a blank sheet of paper.
Proses belajar menurut John Locke:
1. Mengamati hal-hal yang ada di luar diri manusia
2. Mengingat apa yang telah diamati dan dihafalkan
3. Berpikir
• Zaman Naturalis (abad ke-18)
Tokoh pendidikannya J. J. Rousseau
Menurut Rousseau ada tiga asas mengajar, yaitu:
1. Asas pertumbuhan, pengajaran harus memberi kesempatan untuk anak-anak bertumbuh secara wajar dengan cara mempekerjakan mereka sesuai dengan kebutuhannya
2. Asas aktivitas, melalui bekerja anak akan menjadi aktif,yang akan memberikan pengalaman, yang akan kemudian menjadikan pengetahuan mereka
3. Asas individualitas, menyiapkan pendidikan sesuai dengan individualitas masing-masing anak, sehingga mereka berkembang menurut alamnya sendiri
• Zaman Developmentalisme (abad ke-19)
Tokoh pendidikan pertama: Pestalozzi
Pandangan Pestalozzi:
1. Mengembangkan semua aspek individual peserta didik yaitu otak, tangan, dan hati mereka
2. Mengetahui hukum-hukum perkembangan anak
3. Menyediakan syarat-syarat tertentu agar kekuatan-kekuatan anak bisa berkembang dengan baik
4. Pendidikan bersifat kontinu, wajar, dan spontan
5. Dasar metode pendidikan adalah aktivitas anak yang terdiri dari:
a. Impression atau pengamatan, bukan saja lewat panca indera tetapi juga mencakup unsur emosional
b. Ekspresi dalam bentuk bahasa, benda-benda, bilangan atau hitungan dan moral
Tokoh pendidikan kedua: Johann Fredrich Herbart
Dasar teori pendidikan Hebart adalah psikologi asosiasi.
Lima langkah dalam proses belajar mengajar menurut Hebart, yaitu:
1. Persiapan, anak-anak dipersiapkan untuk menerima pelajaran. Merangsang minat siswa untuk menerima bahan baru dengan cara menghubungkan dengan bahan lama yang telah dipelajari
2. Presentasi, dimulai secara konkret agar anak-anak mendapat tanggapan-tanggapan yang jelas, terang, dan kuat
3. Asosiasi, dilakukan dengan cara mengintegrasikan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang lama
4. Generalisasi, hubungan pengetahuan baru dengan yang lama
5. Aplikasi, pembentukan pengetahuan-pengetahuan baru perlu diuji untuk mengetahui apakah anak-anak telah mampu mengapilkasikan pengetahuan itu atau belum
Tokon pendidikan ketiga: Friedrich Wilhelm Frobel di Jerman
Pandangannya:
1. Mengembangkan semua kapasitas dan kekuatan laten pada anak-anak
2. Anak-anak dilahirkan dengan berbekal potensi-potensi
3. Tujuan pendidikan mengembangkan semua potensi anak agar menjadi aktual
4. Tugas pendidikan adalah mengontrol pertumbuhan anak agar menuju ke arah yang benar, ke arah aslinya sebagai anak manusia
5. Titik berak pendidikan adalah kreativitas
Tokoh pendidikan keempat: Stanley Hall di Amerika Serikat
Pandangannya:
1. Tujuan pendidikan adalah mengembangkan semua kekuatan-kekuatan yang ada sehingga memperoleh kepribadian yang harmonis
2. Kehidupan mental dan kehidupan fisik berjalan paralel
3. Isi dan urutan pendidikan disesuaikan dengan tingkat-tingkat perkembangan anak
• Zaman Nasionalisme (abad ke-19)
Tokoh pendidikannya yaitu La Chalotais di Perancis, Fichte di Jerman, dan Jefferson di Amerika Serikat.
Tujuan pendidikannya adalah untukmenjaga, memperkuat, dan mempertinggi kedudukan negara. Yang diutamakan adalah pendidikan sekuler,jasmani, dan kejuruan. Untuk menyukseskan pendidikan-pendidikan tersebut dibutuhkan materi pelajaran yaitu Bahasa dan kesusastraan nasional, Pendidikan kewarganegaraan, lagu-lagu kebangsaan, sejarah negara, geografi negara, dan pendidikan jasmani.
• Aliran Sosial Pendidikan (abad ke-20)
Tokoh pendidikan: Paul Natorp dan George Kerschensteiner di Jerman serta John Dewey di Amerika Serikat
Pendapatnya tentang pendidikan:
1. Masyarakat lebih penting daripada individu
2. Yang dicari dan dipelajari adalah kebenaran pragmatis, yaitu yang dapat meningkatkan kehidupan manusia pada umumnya
3. Perlu didirikan sekolah kerja dengan perlengkapan-perlengkapan bekerja
4. Metode belajar adalah mengaktifkan anak
5. Anak-anak belajar sambil bergaul dan bekerja
6. Tujuan pendidikan adalah membentuk watak susila,paham akan teori-teori,dan dapat bekerja di masyarakat
Ahli pendidikan lain yang terkenal adalah Maria Montessori, Ovide Decroly, dan Hellen Parkhust.
Pandangan ketiga tokoh ini adalah:
1. Pendidikan bersifat individual mengikuti masa peka anak masing-masing dengan berbagai alat peraga
2. Metode global dalammembaca dan menulis
3. Pelajaran bersumber dari pusat-pusat minat di sekitar kehidupan manusia
4. Pelajarn dalam benuk tugas-tugas, sebagai cikal bakal pelajaran modul

B. Sejarah Pendidikan Indonesia
• Tokoh pendidikan pada waktu bangsa Indonesia berjuang merintis kemerdekaan: Mohamad Syafei, Ki Hajar Dewantara, dan Kyai Haji Ahmad Dahlan
Pandangan dan pikiran para tokoh tersebut adalah:
1. Membebaskan jiwa anak dari lingkungan yang merusak, termasuk tekanan penjajah sehingga tumbuh rasa percaya diri, kemauan yang keras dan bertanggung jawab
2. Belajar membiayai diri sendiri, hidup mandiri, dengan mempelajari keterampilan tertentu dan bekerja
3. Membiasakan anak-anak suka bekerja melalui sekolah kerja dengan berbagai fasilitasnya
4. Mengejar perkembangan individu yang harmonis yang mencakup afeksi, kognisi, dan psikomotor, termasuk perkembangan sosial
5. Mengembangkan bakat anak-anak
6. Pendidikan dan pembinaan sejalan dengan kodrat alam, artinya berkembangn secara bebas, pendidik hanya menyiapkan fasilitas dan melayani dengan baik
7. Pendidik mengabdikan dirinya kepada kepentingan perkembangan anak
8. Pendidikan dan pembinaan melalui ajaran agama Islam
9. Mendidik rasa persatuan dan kesatuan bangsa serta semangat kebangsaan
10. Pendidikan demokrasi, dengan menghilangkan tingkat posisi sosial, setiap manusia punya hak dan kewajiban yang sama
11. Memusatkan pengembangan budaya pada kebudayaan Indonesia

C. Masa Perjuangan Bangsa
Tokoh pendidikan pada masa perjuangan bangsa Indonesia adalah Wahidin, seorang tamatan kedokteran yang mendirikan Yayasan Dana Belajar dan Budi Utomo.

Pada waktu itu terjadi dualisme dalam pendidikan yaitu:
1. Sistem pendidikan untuk anak-anak orang Belanda dan orang-orang Eropa lainnya. Sistem pendidikan ini lengkap mulai dari SD sampai dengan SMA dan lulusannya berhak meneruskan ke Eropa
2. Sistem pendidikan untuk anak-anak orang Indonesia, yaitu sebagian besar SD 3 tahun dan beberapa SD 5 tahun. Dan lulusannya dimanfaatkan untuk menjadi pegawai-pegawai pemerintah jajahan yang dibayar murah

D. Masa Pembangunan
Kondisi pendidikan dalam masa pembangunan adalah sebagai berikut:
1. Pemerintah belum menunjukkan political will yang kuat untuk memperbaiki pendidikan
2. Tanggung jawab bersama antarkeluarga, masyarakat, dan pemerintah dalam pendidikan belum terealisasi secara menyeluruh
3. Sulit menemukan tokoh pemikir dalam bidang pendidikan yang konsep-konsepnya tidak sejalan dengan keinginan para penguasa
4. Konsep-konsep inovasi pendidikan bersumber dari dunia Barat
5. Kebijakan link and match untuk membentuk pelayan pabrik dan perdagangan serta jasa
6. Penanaman nilai budaya dan agama tidak cukup melalui bidang studi tertentu, melainkan harus terintegrasi dalam semua bidang studi
7. Sekolah menengah umum lebih banyak daripada sekolah kejuruan, hal ini tidak sesuai dengan kebutuhan hidup di masyarakat
8. Pendidikan belum berintikan pada kemajuan ilmu dan teknologi sebagai sumber budaya zaman global
9. Masih banyak sekali orang Indonesia yang belum berwawasan pada abad ke-21
10. Masyarakat lamban melakukan transformasi sosial untuk beradaptasi dengan era global
11. Pendidikan secara kuantitatif cukup berhasil
12. Pendidikan secara kualitatif masih jauh tertinggal
13. Muncul perilaku-perilaku negatif seperti kenakalan remaja, kolusi dan korupsi
14. Hasil-hasil pembangunan yang menonjol ialah kesadaran beragama, persatuan dan kesatuan serta pertumbuhan ekonomi

E. Masa Reformasi
Pada masa reformasi, sistem pendidikan mulai berubah, yang didahului oleh perubahan Undang-Undang Pendidikan. UU ini menginginkan sistem pendidikan sentralisasi berubah menjadi desentralisasi. Instrumen-instrumen untuk mewujudkan desentralisasi pendidikan yaitu MBS (Manajemen Berbasis Sekolah), Life Skills (lima keterampilan hidup) dan TQM (Total Quality Management). Pemerintah juga menciptakan kelompok-kelompok masyarakat yang independen untuk membantu pendidikan agar mampu mandiri seperti Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.
Di samping itu pemerintah juga mengubah istilah pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah menjadi pendidikan jalur formal, nonformal dan informal. Pendidikan nonformal sangat berperan dalam mengembangkan keterampilan warga belajar untuk mampu bekerja di masyarakat sedangkan pendidikan informal di masyarakat dan dalam keluarga sangat berperan dalam mengembangkan afeksi atau kepribadian, sikap,moral dan mental anak-anak.

Jika kita perhatikan tiap tahunnya, tanggal ulang tahun Google ternyata tidak sama. Yang sama hanya bulannya, yaitu bulan September. Bahkan, umur Googlepun tidak pasti. Menurut beberapa pihak, Google saat ini semestinya berumur 13 tahun, karena Google telah beroperasi secara diam-diam selama tiga tahun sebelum diluncurkannya ke publik pada tahun 1998. Jon Doerr dari Kleiner Perkins Caufield & Byers, seorang pemodal pertama Google menyatakan bahwa dia tidak pernah mengira dia dapat memperoleh keuntungan dari perusahaan yang bisa disamakan dengan tambang minyak, dengan modal yang sangat sedikit.

Pada awalnya Google mencari 45 halaman per-detik dan kantornya berlokasi di 165 University Avenue, Palo Alto, namun sekarang mereka mampu mencari 2.772 halaman per-detik dengan kantor di berbagai negara! Dari awalnya memiliki 40 karyawan, sekarang Google memiliki 19.000 karyawan. Larry dan Sergey juga telah menjadi milyuner dan memiliki pesawat Boeing 767 dan 757.

sumber: majalah Computing Channel