LANDASAN HISTORIS PENDIDIKAN

A. Sejarah Pendidikan Dunia
• Zaman Hellenisme (150SM – 500)
• Zaman Pertengahan (500 – 1500)
• Zaman Humanisme atau Renaissance serta zaman Reformasi dan Kontra Reformasi (1600an)
• Zaman Realisme (abad ke-17)
Tokoh pendidikan: Francis Bacon
Pandangannya:
1. Dalam menemukan dan mengembangkan pengetahuan, pandangan harus diarahkan kepada realita alam ini serta hal-hal praktis yang ada di dalamnya
2. Alam lingkungan adalah sumber pengetahuan yang bisa didapat lewat alat-alat indera
3. Menggunakan metode berpikir induktif
4. Mengembangkan pengetahuan dengan eksperimen-eksperimen
5. Penggunaan bahasa daerah lebih diutamakan
Prinsip pendidikan yang dirumuskan oleh Bacon
1. Pendidikan lebih dihargai daripada pengajaran sebab mengembangkan semua kemampuan manusia
2. Pendidikan harus menekankan aktivitas sendiri
3. Penanaman pengertian lebih penting dari hafalan
4. Pelajaran disesuaikan dengan perkembangan anak
5. Pelajaran harus diberikan satu per satu
6. Pengetahuan diperoleh dengan metode induksi
7. Semua anak harus mempunyai kesempatan yang sama untuk belajar
Tokoh pendidikan Realisme yang lain yaitu Johann Amos Comenius
Pandangannya:
1. Belajar melalui peragaan atau cara sendiri di alam terbuka dengan observasi atau penelitian sehinggga anak-anak akan mendapat jawaban dari alam itu sendiri
2. Pelajaran harus maju selangkah demi selangkah, dari yang mudah ke yang sukar
3. Ekspresi dengan kata merupakan hal yang penting untuk mengetahui apa yang telah mereka pahami
• Zaman Rasionalisme (Abad ke-18)
Tokoh Pendidikan: John Locke
Tujuan aliran ini untuk memberikan kekuasaan bagi manusia untuk berpikir sendiri dan bertindak untuk dirinya.
Aliran ini disebut juga disiplinarianisme.
Teorinya yang terkenal leon Tabularasa dan a blank sheet of paper.
Proses belajar menurut John Locke:
1. Mengamati hal-hal yang ada di luar diri manusia
2. Mengingat apa yang telah diamati dan dihafalkan
3. Berpikir
• Zaman Naturalis (abad ke-18)
Tokoh pendidikannya J. J. Rousseau
Menurut Rousseau ada tiga asas mengajar, yaitu:
1. Asas pertumbuhan, pengajaran harus memberi kesempatan untuk anak-anak bertumbuh secara wajar dengan cara mempekerjakan mereka sesuai dengan kebutuhannya
2. Asas aktivitas, melalui bekerja anak akan menjadi aktif,yang akan memberikan pengalaman, yang akan kemudian menjadikan pengetahuan mereka
3. Asas individualitas, menyiapkan pendidikan sesuai dengan individualitas masing-masing anak, sehingga mereka berkembang menurut alamnya sendiri
• Zaman Developmentalisme (abad ke-19)
Tokoh pendidikan pertama: Pestalozzi
Pandangan Pestalozzi:
1. Mengembangkan semua aspek individual peserta didik yaitu otak, tangan, dan hati mereka
2. Mengetahui hukum-hukum perkembangan anak
3. Menyediakan syarat-syarat tertentu agar kekuatan-kekuatan anak bisa berkembang dengan baik
4. Pendidikan bersifat kontinu, wajar, dan spontan
5. Dasar metode pendidikan adalah aktivitas anak yang terdiri dari:
a. Impression atau pengamatan, bukan saja lewat panca indera tetapi juga mencakup unsur emosional
b. Ekspresi dalam bentuk bahasa, benda-benda, bilangan atau hitungan dan moral
Tokoh pendidikan kedua: Johann Fredrich Herbart
Dasar teori pendidikan Hebart adalah psikologi asosiasi.
Lima langkah dalam proses belajar mengajar menurut Hebart, yaitu:
1. Persiapan, anak-anak dipersiapkan untuk menerima pelajaran. Merangsang minat siswa untuk menerima bahan baru dengan cara menghubungkan dengan bahan lama yang telah dipelajari
2. Presentasi, dimulai secara konkret agar anak-anak mendapat tanggapan-tanggapan yang jelas, terang, dan kuat
3. Asosiasi, dilakukan dengan cara mengintegrasikan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang lama
4. Generalisasi, hubungan pengetahuan baru dengan yang lama
5. Aplikasi, pembentukan pengetahuan-pengetahuan baru perlu diuji untuk mengetahui apakah anak-anak telah mampu mengapilkasikan pengetahuan itu atau belum
Tokon pendidikan ketiga: Friedrich Wilhelm Frobel di Jerman
Pandangannya:
1. Mengembangkan semua kapasitas dan kekuatan laten pada anak-anak
2. Anak-anak dilahirkan dengan berbekal potensi-potensi
3. Tujuan pendidikan mengembangkan semua potensi anak agar menjadi aktual
4. Tugas pendidikan adalah mengontrol pertumbuhan anak agar menuju ke arah yang benar, ke arah aslinya sebagai anak manusia
5. Titik berak pendidikan adalah kreativitas
Tokoh pendidikan keempat: Stanley Hall di Amerika Serikat
Pandangannya:
1. Tujuan pendidikan adalah mengembangkan semua kekuatan-kekuatan yang ada sehingga memperoleh kepribadian yang harmonis
2. Kehidupan mental dan kehidupan fisik berjalan paralel
3. Isi dan urutan pendidikan disesuaikan dengan tingkat-tingkat perkembangan anak
• Zaman Nasionalisme (abad ke-19)
Tokoh pendidikannya yaitu La Chalotais di Perancis, Fichte di Jerman, dan Jefferson di Amerika Serikat.
Tujuan pendidikannya adalah untukmenjaga, memperkuat, dan mempertinggi kedudukan negara. Yang diutamakan adalah pendidikan sekuler,jasmani, dan kejuruan. Untuk menyukseskan pendidikan-pendidikan tersebut dibutuhkan materi pelajaran yaitu Bahasa dan kesusastraan nasional, Pendidikan kewarganegaraan, lagu-lagu kebangsaan, sejarah negara, geografi negara, dan pendidikan jasmani.
• Aliran Sosial Pendidikan (abad ke-20)
Tokoh pendidikan: Paul Natorp dan George Kerschensteiner di Jerman serta John Dewey di Amerika Serikat
Pendapatnya tentang pendidikan:
1. Masyarakat lebih penting daripada individu
2. Yang dicari dan dipelajari adalah kebenaran pragmatis, yaitu yang dapat meningkatkan kehidupan manusia pada umumnya
3. Perlu didirikan sekolah kerja dengan perlengkapan-perlengkapan bekerja
4. Metode belajar adalah mengaktifkan anak
5. Anak-anak belajar sambil bergaul dan bekerja
6. Tujuan pendidikan adalah membentuk watak susila,paham akan teori-teori,dan dapat bekerja di masyarakat
Ahli pendidikan lain yang terkenal adalah Maria Montessori, Ovide Decroly, dan Hellen Parkhust.
Pandangan ketiga tokoh ini adalah:
1. Pendidikan bersifat individual mengikuti masa peka anak masing-masing dengan berbagai alat peraga
2. Metode global dalammembaca dan menulis
3. Pelajaran bersumber dari pusat-pusat minat di sekitar kehidupan manusia
4. Pelajarn dalam benuk tugas-tugas, sebagai cikal bakal pelajaran modul

B. Sejarah Pendidikan Indonesia
• Tokoh pendidikan pada waktu bangsa Indonesia berjuang merintis kemerdekaan: Mohamad Syafei, Ki Hajar Dewantara, dan Kyai Haji Ahmad Dahlan
Pandangan dan pikiran para tokoh tersebut adalah:
1. Membebaskan jiwa anak dari lingkungan yang merusak, termasuk tekanan penjajah sehingga tumbuh rasa percaya diri, kemauan yang keras dan bertanggung jawab
2. Belajar membiayai diri sendiri, hidup mandiri, dengan mempelajari keterampilan tertentu dan bekerja
3. Membiasakan anak-anak suka bekerja melalui sekolah kerja dengan berbagai fasilitasnya
4. Mengejar perkembangan individu yang harmonis yang mencakup afeksi, kognisi, dan psikomotor, termasuk perkembangan sosial
5. Mengembangkan bakat anak-anak
6. Pendidikan dan pembinaan sejalan dengan kodrat alam, artinya berkembangn secara bebas, pendidik hanya menyiapkan fasilitas dan melayani dengan baik
7. Pendidik mengabdikan dirinya kepada kepentingan perkembangan anak
8. Pendidikan dan pembinaan melalui ajaran agama Islam
9. Mendidik rasa persatuan dan kesatuan bangsa serta semangat kebangsaan
10. Pendidikan demokrasi, dengan menghilangkan tingkat posisi sosial, setiap manusia punya hak dan kewajiban yang sama
11. Memusatkan pengembangan budaya pada kebudayaan Indonesia

C. Masa Perjuangan Bangsa
Tokoh pendidikan pada masa perjuangan bangsa Indonesia adalah Wahidin, seorang tamatan kedokteran yang mendirikan Yayasan Dana Belajar dan Budi Utomo.

Pada waktu itu terjadi dualisme dalam pendidikan yaitu:
1. Sistem pendidikan untuk anak-anak orang Belanda dan orang-orang Eropa lainnya. Sistem pendidikan ini lengkap mulai dari SD sampai dengan SMA dan lulusannya berhak meneruskan ke Eropa
2. Sistem pendidikan untuk anak-anak orang Indonesia, yaitu sebagian besar SD 3 tahun dan beberapa SD 5 tahun. Dan lulusannya dimanfaatkan untuk menjadi pegawai-pegawai pemerintah jajahan yang dibayar murah

D. Masa Pembangunan
Kondisi pendidikan dalam masa pembangunan adalah sebagai berikut:
1. Pemerintah belum menunjukkan political will yang kuat untuk memperbaiki pendidikan
2. Tanggung jawab bersama antarkeluarga, masyarakat, dan pemerintah dalam pendidikan belum terealisasi secara menyeluruh
3. Sulit menemukan tokoh pemikir dalam bidang pendidikan yang konsep-konsepnya tidak sejalan dengan keinginan para penguasa
4. Konsep-konsep inovasi pendidikan bersumber dari dunia Barat
5. Kebijakan link and match untuk membentuk pelayan pabrik dan perdagangan serta jasa
6. Penanaman nilai budaya dan agama tidak cukup melalui bidang studi tertentu, melainkan harus terintegrasi dalam semua bidang studi
7. Sekolah menengah umum lebih banyak daripada sekolah kejuruan, hal ini tidak sesuai dengan kebutuhan hidup di masyarakat
8. Pendidikan belum berintikan pada kemajuan ilmu dan teknologi sebagai sumber budaya zaman global
9. Masih banyak sekali orang Indonesia yang belum berwawasan pada abad ke-21
10. Masyarakat lamban melakukan transformasi sosial untuk beradaptasi dengan era global
11. Pendidikan secara kuantitatif cukup berhasil
12. Pendidikan secara kualitatif masih jauh tertinggal
13. Muncul perilaku-perilaku negatif seperti kenakalan remaja, kolusi dan korupsi
14. Hasil-hasil pembangunan yang menonjol ialah kesadaran beragama, persatuan dan kesatuan serta pertumbuhan ekonomi

E. Masa Reformasi
Pada masa reformasi, sistem pendidikan mulai berubah, yang didahului oleh perubahan Undang-Undang Pendidikan. UU ini menginginkan sistem pendidikan sentralisasi berubah menjadi desentralisasi. Instrumen-instrumen untuk mewujudkan desentralisasi pendidikan yaitu MBS (Manajemen Berbasis Sekolah), Life Skills (lima keterampilan hidup) dan TQM (Total Quality Management). Pemerintah juga menciptakan kelompok-kelompok masyarakat yang independen untuk membantu pendidikan agar mampu mandiri seperti Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.
Di samping itu pemerintah juga mengubah istilah pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah menjadi pendidikan jalur formal, nonformal dan informal. Pendidikan nonformal sangat berperan dalam mengembangkan keterampilan warga belajar untuk mampu bekerja di masyarakat sedangkan pendidikan informal di masyarakat dan dalam keluarga sangat berperan dalam mengembangkan afeksi atau kepribadian, sikap,moral dan mental anak-anak.